Sejarah Kata Santri, Begini Pendapat Cak Nur

- Sabtu, 23 Oktober 2021 | 08:18 WIB
Cak Nur. (foto: wikipedia)
Cak Nur. (foto: wikipedia)

suaramerdeka.com - Budayawan dan cendekiawan, mendiang Nurcholis Madjid (Cak Nur) menyebut dalam bukunya Bilik-bilik Santri Sebuah Potret Perjalanan yang diterbitkan Paramadina tahun 1997, bahwa sejarah kata santri bisa jadi berasal dari bahasa Jawa.

Cak Nur yang wafat di Jakarta, 29 Agustus  2005, dalam bukunya itu menjelaskan, secara sejarah kata santri itu berasal dari kata cantrik yang bermakna orang atau murid yang selalu mengikuti gurunya

Karena memang santri paling banyak hingga saat ini itu di nomor satu Jawa Timur kemudian nomor dua Jawa Tengah dan nomor tiga Jawa Barat.

Baca Juga: Pengurangan Sampah Plastik Produsen, Pegiat Lingkungan Tuntut Keterbukaan Informasi Peta Jalan

Hal ini juga menarik karena memang ini masih terkait dengan sejarah santri yang awalnya adalah lakon sufisme.

Di mana ia menjalani tarekat-tarekat itu jalan, yakni jalan dari para gurunya yang bersambung dari gurunya gurunya lagi hingga maka gurunya yaitu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Mengenal bagaimana seorang santri sangat mengikuti sangat taat dan sangat loyal kepada kyainya apa kata kyainya samikna wa atokna santri itu akan menyimaknya dengan baik dan mentaatinya sepenuh hati.

Baca Juga: Partai Golkar Nilai Kepemimpinan Jokowi-Ma'ruf Amin Berhasil Kendalikan Pandemi Covid-19

Seperti diketahui, sejak tahun 2015, 22 Oktober diresmikan menjadi hari santri nasional ini menjadi hari raya para santri.

Halaman:

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menyikapi Penurunan Kualitas Demokrasi Selama Pandemi

Kamis, 2 Desember 2021 | 21:23 WIB
X