Upayakan Jemaah Indonesia Bisa Kembali Umrah, Aplikasi Pedulilindungi Disinkronisasi

- Jumat, 22 Oktober 2021 | 11:52 WIB
Dialog Produktif Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) - KPCPEN, Kamis, 21 Oktober 2021 (suaramerdeka.com/dok)
Dialog Produktif Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) - KPCPEN, Kamis, 21 Oktober 2021 (suaramerdeka.com/dok)




JAKARTA, suaramerdeka.com - Pemerintah Indonesia terus melakukan upaya diplomatik dengan Pemerintah Arab Saudi.

Seluruh koordinasi dilakukan, sehingga jika kelak pintu masuk bagi jemaah Indonesia kembali dibuka, maka perjalanan, pelaksanaan ibadah, serta kepulangan, dapat berlangsung baik, sehat dan aman dari penyebaran kasus Covid-19.

Konsul Jenderal RI di Jeddah Eko Hartono mengatakan pemerintah telah menerima surat pemberitahuan bahwa Arab Saudi mulai mempertimbangkan pembukaan kembali pintu ibadah umrah bagi jemaah asal Indonesia.

Baca Juga: Semarakkan Hari Santri Nasional, 8 Pantun Ini Cocok Lho Dibagikan di Medsos

Ia pun meminta masyarakat Indonesia untuk bersabar.

Salah satu hal teknisnya yang sampai saat ini dilakukan adalah upaya sinkronisasi aplikasi PeduliLindungi dengan aplikasi serupa yang dimiliki Pemerintah Arab Saudi, yakni Tawakkalna.

"Tujuannya, agar status kesehatan khususnya sertifikat vaksinasi jemaah Indonesia dapat dibaca atau dipastikan saat melakukan ibadah di sana. Saat ini, upaya tersebut masih dalam tahap proses. Sehingga tanpa status kesehatan dan sertifikat vaksin, tidak bisa melaksanakan ibadah umroh,” kata Eko dalam Dialog Produktif Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) - KPCPEN, Kamis, 21 Oktober 2021.

Eko menambahkan bagi jamaah asing yang memakai 4 vaksin Pfizer, Moderna, AstraZeneca, dan Johnson&Johnson, maka bisa menjalankan ibadah umroh.

Baca Juga: Dasar Hukum sudah Kuat, Fraksi PKB Kota Semarang: Saatnya Wujudkan Perda Pesantren

Sedangkan jemaah yang mendapatkan vaksin jenis lain, seperti Sinovac dan Sinopharm, harus memperoleh minimal 1 kali vaksin booster dari 4 merek yang dipakai di Arab Saudi.

Direktur Bina Haji dan Umroh Kementerian Agama, Nur Arifin, menjelaskan bahwa pihaknya terus melakukan koordinasi dengan berbagai kementerian, lembaga, juga Satgas Covid-19 terkait perlindungan kesehatan jemaah, yakni aturan karantina dan vaksin booster, pembahasan revisi biaya umrah, juga koordinasi teknisdengan asrama haji dan fasyankes terdekat.

“Kami siapkan revisi pedoman pelaksanaan umroh di era pandemi. Setelah selesai, akan dilakukan gladi keberangkatan dan kepulangan umroh di asrama haji Pondok Gede dan Bekasi,” ujar Arifin.

Ketua Umum Himpunan Penyelenggara Umroh dan Haji, Budi Darmawan berharap, tahap awal pemberangkatan umroh dari 1 pintu ini akan dapat membuktikan pada Pemerintah Arab Saudi, bahwa jemaah Indonesia yang tiba semua sehat dan dapat mengikuti aturan kedua negara.

Baca Juga: Gus Im: Memilih Pemimpin Bukan Hanya Urusan Dunia Saja tapi juga Kehidupan Akhirat, Apa Saja Syaratnya?

Budi menjelaskan, calon jemaah umroh yang tertunda keberangkatannya karena pandemi, berjumlah sekitar 62 ribu orang, terhitung sejak penutupan pada 27 Februari 2020.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, meminta masyarakat betul-betul mempersiapkan diri dalam perjalanan umroh karena penularan bisa terjadi di mana saja, baik pada perjalanan maupun pelaksanaan ibadah, yang dapat berlangsung dalam kerumunan orang dari berbagai negara.

“Pastikan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak) dan anjuran detil protokol kesehatan Indonesia serta Arab Saudi, ikuti proses karantina sebelum berangkat dan setelah kembali, di tempat-tempat yang sudah terstandarisasi.

Pemberangkatan dari satu pintu penting guna memastikan semua terkendali, dan patuhi aturan skrining yang ada,” ungkap Wiku.

Halaman:
1
2

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X