Memodifikasi Motor untuk Penyandang Disabilitas

- Senin, 26 Oktober 2020 | 01:07 WIB
SM/Septina Nafiyanti : MENGELAS : Khosikin mengelas rangka motor yang akan dirakit untuk sesama penyandang disabilitas. (42)
SM/Septina Nafiyanti : MENGELAS : Khosikin mengelas rangka motor yang akan dirakit untuk sesama penyandang disabilitas. (42)

Khosikin bagaikan lilin yang terus menyala dalam kegelapan. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit selama pandemi Covid-19, pria yang memiliki keterbatasan fisik itu tetap berkarya dan membantu sesama penyandang disabilitas.

NADA bicara Khosikin selalu penuh semangat saat berbincang-bincang dengan siapa pun. Optimisme selalu terbit dali kalimat-kalimatnya. Tidak ada kesan minder atau canggung sama sekali. Warga RT 3 RW 2, Desa Lebak, Kecamatan Pakis Aji, Jepara ini juga cekatan saat bekerja.

Meski dengan langkah tertatih-tatih, tak tampak keluh kesah saat dia menjalankan usaha las. Fisik Khosikin memang tak sempurna. Kedua kaki dan kedua tangannya tidak utuh sejak lahir. Kaki dan tangan Khosikin lebih kecil dibandingkan orang sebayanya. Namun, keterbatasan fisik tidak membuat bapak satu anak ini bergantung pada orang lain. Dia mandiri. Khosikin bahkan mampu membuka lapangan pekerjaan di usaha bengkel las miliknya.

Usaha tersebut bermula dari ketidaksengajaan. Semua berawal dari pengalaman merakit sepeda motornya sendiri. Kini dia mampu mempekerjakan orang-orang normal. Hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anaknya. Sikap dan kerja keras itu membuat Khosikin selalu mengajak teman-temannya agar mandiri. Dia tidak ingin rekan-rekannya bergantung pada orang lain.

Banyak cara yang dilakukannya. Di antaranya memotivasi, memberikan contoh, dan mengajak bangkit. Khosikin juga membantu dengan menyediakan kail. Yang dimaksud kail oleh suami Sulistiyowati ini adalah kendaraan. Dia memodifikasi sepeda motor agar bisa dipakai untuk beraktivitas. ”Teman beli sepeda motor, saya modifikasikan. Beli motornya sesuai kantong masing-masing,” ujarnya saat ditemui Minggu (25/10). Sepeda motor tersebut kemudian diserahkan kepadanya. Khosikin lantas mengutak-atik sesuai kebutuhan. Hal paling utama adalah mengubah menjadi beroda tiga. Tentu dengan berbagai penyesuain, seperti gas, rem, dan perangkat lainnya sesuai kemampuan pengguna. ”Mulai merancang, mengukur kebutuhan besi, mengelas, dan mengecat, saya kerjakan sendiri. Tetapi, soal mesin dibantu adik saya,” imbuhnya.

Masing-masing merek kendaraan memiliki tipe tersendiri. Kondisi itu yang membuatnya bekerja esktra. Dia harus menyesuaikan tipe kendaraan dan kebutuhan. Dalam merakit sepeda motor, pria kelahiran Jepara, 28 November 1981 itu selalu memikirkan kenyamanan dan keamanan. Sebab, dia tidak ingin pengalaman tak menyenangkan saat menaiki motor terjadi pada temannya. ”Pernah jatuh dari sepeda motor saat menjemput adik. Akibat kecelakaan itu saya patah tulang. Kejadian itu sekitar tahun 2007,” ungkapnya. Patah tulang membuatnya tidak bisa beraktivitas sama sekali. Dia hanya bisa menghabiskan waktu di kamar tidur hingga setahun. Selepas sembuh, ada rasa trauma naik sepeda motor. Rasa takut jatuh lagi terus menghantuinya. Butuh waktu sekitar dua tahun untuk berani naik motor lagi. Itu pun membonceng. Keadaan tersebut membuatnya sangat bergantung pada orang lain. Tak ingin terus menjadi beban, pada 2010 perlahan-lahan Khosikin memberanikan diri naik motor lagi. Tidak lagi roda dua, melainkan roda tiga yang telah dimodifikasi. Idenya memodifikasi tercetus saat bertemu anggota komunitas Vespa. Saat berkumpul, ada kendaraan beroda tiga. Khosikin berpikir, motor itu sangat cocok dengan kondisinya.

Khosikin lantas meminta bantuan orang untuk merakit sepeda motor miliknya. Namun gagal. Sepeda motornya sulit dikendarai karena tidak seimbang. ”Kalau digas, monting (oleng-Red),” jelas pria yang mengaku hanya lulus SMP itu. Karena tak puas, dia membawa motornya ke bengkel lain. Lagi-lagi, hasilnya belum sesuai harapan.

Sepeda motor itu tidak mampu bertahan lama. Hasil rakitan hanya bertahan sekitar lima bulan. Besi-besi rakitan motornya mudah lepas. Hal itu membuatnya tidak bisa bepergian jauh. Khosikin juga tidak bisa berangkat kerja sebagai tukang kayu. Akhirnya dia membaranikan diri merakit sendiri. Setelah mengumpulkan bahan, ayah Allena itu membeli mesin las.

Dia belajar merancang, merakit, dan mengelas secara autodidak. Ternyata berhasil. Kendaraan itu mengantarnya ke mana pun dia pergi hingga sekarang. Keberhasilan itu membuat Khosikin dipercaya temannya sesama tunadaksa untuk merakit motor.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Rais Aam PBNU Putuskan Muktamar 17 Desember

Jumat, 26 November 2021 | 23:03 WIB
X