Aksi Massa, Saat Ideologi jadi Mimpi

Red
- Senin, 12 Oktober 2020 | 15:15 WIB
suaramerdeka.com/dok
suaramerdeka.com/dok

MALAM itu suasana rapat mencekam. Para aktivis mahasiswa dari beragam kampus dan organisasi yang berkumpul di Semarang mulai gelisah. Suasana itu muncul dari informasi adanya intel-intel yang berkeliaran. Isu penangkapan para aktivis mahasiswa berhembus. Baik di Jakarta maupun kota-kota lain seperti Semarang.

Meski diliputi keberanian dan heroisme, namun sejumput kekhawatiran tetap ada. Saya termasuk yang khawatir.

Pada masa itu, bukan hal yang sulit untuk “menghilangkan” orang. Apalagi bagi saya, hanya salah satu mahasiswa. Bukan tokoh penting dalam konstelasi politik nasional maupun lokal. Tentu mudah “dihilangkan”. Jika itu terjadi, mungkin juga tidak ada kegaduhan politik. Tidak yang mencari, kecuali keluarga sendiri.

Saat itu perdebatan berlangsung alot. Bukan sekadar bicara tentang pengerahan massa untuk demonstrasi. Tapi substansi gerakan sebagai bagian dari aksi massa (massa actie). Dinihari rapat baru selesai. Sebagian besar memilih bertahan di kampus, sebagian kecil pulang ke rumah atau ke sekretariat organisasi masing-masing. Saya termasuk yang memilih bertahan di kampus. Selain rasa penat yang luarbiasa, juga merasa lebih aman.

Dinamika sosial politik dimasa kekuasan Soeharto relatif stabil. Tercipta bukan karena tatanan yang demokratis tapi cengkeraman rejim hingga ke denyut nadi kehidupan rakyat. Termasuk kehidupan para aktivis. Meminjam istilahnya Pramoedya Ananta Toer, kuasa represif rejim Orba membuat rakyat seperti hidup dalam “Rumah Kaca". Segala gerak gerik rakyat diawasi oleh aparat kekuasaan. Aktif dalam organisasi yang selalu bersikap kritis pada pemerintah bukan pilihan mayoritas mahasiswa.

Demonstrasi akhirnya dibubarkan aparat. Sebagian aktivis ditangkap, namun saat itu tidak terjadi perusakan fasilitas publik apalagi kerusuhan sosial.

Mungkin ada pihak yang menyebutnya tidak revolusioner dan tidak heroik. Tapi saya meyakini bahwa kerusuhan sosial bukanlah heroisme, apalagi ukuran revolusioner atau tidak revolusioner. Kerusuhan sosial juga bukan aksi massa.

Tan Malaka dalam “Aksi Massa; Perkakas Revolusi Kita,” menulis selama seorang percaya bahwa kemerdekaan (kalau dalam konteks saat ini dapat dibaca sebagai cita-cita politik) akan tercapai dengan jalan "putch" atau anarkisme, hal itu hanyalah impian seorang yang lagi demam. Dan pengembangan keyakinan itu di antara rakyat merupakan satu perbuatan yang menyesatkan. "Putch" itu adalah satu aksi segerombolan kecil yang bergerak diam-diam dan tak berhubungan dengan rakyat banyak.

Aksi massa (massa actie) dan aksi massal (massale actie) sangat berbeda maknanya. Menurut Bung Karno, menggerakan ribuan orang atau ratusan ribu orang berdemonstrasi tanpa dilandasi kesadaran ideologis dan teori perjuangan bukanlah aksi massa tapi aksi massal.

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

Kemenag Raih Anugerah Meritokrasi KASN 2021

Selasa, 7 Desember 2021 | 21:40 WIB

Safar: Program JKN KIS, Jaminan Kesehatan yang Mumpuni

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:07 WIB
X