Posisi Pesantren Serba Sulit Kala Pandemi Covid-19, Begini Penjelasan Wamenag

- Sabtu, 10 Oktober 2020 | 10:36 WIB
istimewa
istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com -  Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi menilai situasi pandemi Covid-19 menjadikan posisi pesantren menghadapi masalah serbasulit. Di satu sisi, pesantren harus menghadapi Covid-19 dengan penuh kehati-hatian. Di sisi lain pesantren harus memberikan pelayanan pendidikan dan menjamin kesehatan para santri dan ustadz di lingkungan pesantren.  

Meski demikian, Wamenag yakin pesantren dapat melewati perubahan dengan baik. “Semoga lembaga pendidikan agama tetap aman dari Covid-19 dan tetap produktif dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat,” kata Wamenag saat membuka Muktamar Pemikiran Santri di Jakarta, Rabu (7/10).

Wamenag menyebut pesantren terbukti adaptif dalam kondisi apa pun. Selain itu, juga tetap dapat bangkit dalam berbagai situasi dan kondisi yang terjadi. Kemenag mengharapkan itu dapat membantu dalam mencegah dan menangani Covid-19 di lingkungan lembaga pendidikan agama, sehingga pesantren tetap memberikan layanan pendidikan dengan baik, memberikan bimbingan kepada umat.

Baca juga: Klaster Pesantren Muncul di Temanggung, Satgas Optimalkan Pembinaan

Pada bagian lain, pihaknya menegaskan pemerintah berkomitmen memberikan bantuan untuk 21.000 pesantren dan lembaga pendidikan agama lainnya dalam penanganan Covid-19 dengan total anggaran Rp 2,6 triliun. Bantuan tahap I dan II bantuan tersebut telah disalurkan, menyusul tahap III segera dicairkan.

“Kami sampai saat ini telah mencairkan anggaran untuk pesantren dalam tahap II. Insyaallah tahap III akan dituntaskan pada peringatan Hari Santri 22 Oktober nanti,” kata pria kelahiran Jepara, 20 Juli 1963 ini.

Wamenag menambahkan, bantuan tersebut sebagai wujud perhatian serius dalam kepedulian dan pemberikan solusi kepada pesantren yang telah memiliki kontribusi besar bagi bangsa. Pesantren dikenal dengan kehidupan guyup rukun. Para santri tidak memiliki bingkai jarak sosial. Namun, secara tiba-tiba harus mengubah kebiasaan itu.

“Kebersamaan fisik yang sekarang menjadi media mengakrabkan diri harus dibatasi, seperti keterbatasan santri yang ingin mencium tangan kiainya. Begitu juga dengan pembelajaran yang biasanya tatap muka, tabarukan, juga tergantikan dengan jarak jauh,” tutur Ketua Umum PP IPNU dua periode (1988–1996).

Editor: Andika

Tags

Terkini

7 Fakta Meninggalnya Ameer Azzikra, Adik Alvin Faiz

Senin, 29 November 2021 | 18:55 WIB
X