Remdesivir Jadi Perbincangan, Belum Ada Obat Covid-19 Definitif yang Disetujui

- Rabu, 7 Oktober 2020 | 06:15 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com  - Akhir-akhir ini obat Remdesivir menjadi perbincangan karena sebagai antivirus telah mendapat persetujuan izin edar untuk digunakan sebagai salah satu obat yang dapat diberikan pada pasien Covid-19. Obat ini diberikan izin edar dalam bentuk ''Emergency Use Authorization (EUA)''.

Pakar Farmakologi dan Farmasi Klinis UGM, Prof Dr Zullies Ikawati Apt menjelaskan izin penggunaan obat diberikan secara darurat karena belum ada obat Covid-19 yang definitif dan disetujui. Remdesivir tidak bisa didapat secara bebas di pasaran. Obat langsung didistribusikan ke rumah sakit dan tidak tersedia di apotik. Obat ini dalam beberapa bulan terakhir dipakai dalam uji coba yang dilakukan oleh WHO.

''Sejumlah negara juga menggunakan obat tersebut dan hasilnya  menunjukkan adanya efektivitas yang baik saat digunakan dalam pengobatan pasien Covid-19. Pemberian remdesivir mampu mempersingkat masa penyembuhan pada pasien Covid-19. Remdesivir merupakan obat antivirus. Dulu dikembangkan untuk mengatasi virus-virus RNA  dan pernah dicobakan saat ada wabah Ebola dan MERS,'' oaoar Ikawati.

Remdesivir merupakan senyawa analog (mirip) dengan adenosine dan bisa menyusup ke dalam rantai RNA. Obat ini bekerja dengan menghambat replikasi virus dalam tubuh. Keunikannya, obat akan mengalami perubahan menjadi zat aktif ketika sudah berada dalam tubuh pasien. Bentuk tersebut dapat meningkatkan masuknya obat ke dalam sel dan melindungi obat sampai di tempat kerjanya.

Modifikasi penting pada remdesivir adalah gugus karbon nitrogen (CN) yang melekat pada gula. Karenanya, begitu remdesivir dimasukkan ke dalam rantai pertumbuhan RNA, keberadaan gugus CN akan menyebabkan bentuk gula mengerut. Pada akhirnya menghentikan produksi untai RNA dan menyabotase replikasi virus.

Baca Juga: Percepat Produksi Obat Remdesivir, Ini Alasan Luhut

Menurut Ikawati, adanya perubahan ikatan C-N menjadi C-C menyebabkan remdesivir tidak dapat dilepaskan oleh enzim targetnya yaitu RNA-dependent RNA Polymerase. Kondisi tersebut menjadikannya tetap berada dalam rantai RNA yang tumbuh dan memblokir replikasi virus.

Penggunaan remdesivir hanya boleh pada pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dengan usia di atas 12 tahun dan berat badan minimal 40 kg. Pemberian obat dilakukan melalui injeksi dengan infus. Hari pertama sebanyak 200 miligram, lalu di hari kedua dan berikutnya diberikan sebanyak 100 miligram/hari. Adapun pemberian obat dilakukan 5 hingga 10 hari.

Kendati dapat membantu dalam pengobatan Covid-19, remdesivir memiliki sejumlah efek samping antara lain mual dan muntah. Selain itu remdesivir bisa meningkatkan enzim transaminase di liver sehingga berpotensi merusak liver. Karena itu, penggunaannya harus diberikan secara hati-hati pada pasien yang terindikasi memiliki gangguan fungsi hati.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

Atlet Program Semarang Emas Jalani Tes Fisik

Minggu, 28 November 2021 | 13:41 WIB

Banjir Bandang di Garut, 21 Rumah Rusak

Minggu, 28 November 2021 | 08:42 WIB

Rais Aam PBNU Putuskan Muktamar 17 Desember

Jumat, 26 November 2021 | 23:03 WIB
X