Hari Jadi Kabupaten Tangerang dalam Goresan Babad Diponegoro

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 22:37 WIB
Ilustrasi Pangeran Diponegoro. (foto: mediapakuan.pikiran-rakyat.com)
Ilustrasi Pangeran Diponegoro. (foto: mediapakuan.pikiran-rakyat.com)

Ibunda Suriadiwangsa II adalah Ratu Widari binti Pangeran Upapatih bin Maulana Yusuf Raja ke II Kesultanan Banten.

2. Pangeran Jayasantika / Raden Aria Jayasantika / Demang Tisnajaya bin Raden Jaka Lalana, bin Raden Kidang Palakaran bin Pucuk Umun Banten.

Ibunda Jayasantika adalah Nyi Mas Nurteja binti Prabu Geusan Ulun Sumedang.

3. Pangeran Wiraraja II / Raden Aria Wangsakara / Haji Mas Imam Wangsaraja / Kyai Narantaka/ Syarif Ali bin Hasan / Pangeran Wiraraja I bin Prabu Geusan Ulun Sumedang.

Jika dirunut dari pihak ibu, Wangsakara adalah Nyi Mas Cipta putri R. Kidang Palakaran bin Pucuk Umun Banten.

Wangsakara juga menjadi cucu menantu dari Raja Sultan Banten ke IV yang nantinya bergelar Sulthan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qodir Al Bantani.

Tokoh Wangsakara / Wangsaraja / Kyai Narantaka, kemudian tercatat dalam data Sajarah Banten, menjadi Duta Kesultanan Banten ke Mekah.

Lewat lobi politiknya dengan Syarif Mekah saat itu, terjalin kerja sama awal Pan-Islam Nusantara, di abad 17 M,.

Kerjasama ini membentuk para raja Kerajaan Islam Banten, Makasar dan Mataram, saling bekerjasama mengusir penjajahan VOC pada abad 17 M.

Sehingga Syarif Mekah mengesahkan gelar Sultan pada raja Banten tahun 1638 kepada raja Makasar Sultan Alauddin (kakek Sultan Hasanudin) tahun 1639.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

X