Tak Hanya Berantas Hoaks, Kim Siap Bertransformasi Menuju Digital Tonjolkan Kearifan Lokal

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 19:20 WIB
Direktur Tata Kelola dan Kemitraan Komunikasi Publik Kominfo, Hasyim Gautama. (suaramerdeka.com/dok)
Direktur Tata Kelola dan Kemitraan Komunikasi Publik Kominfo, Hasyim Gautama. (suaramerdeka.com/dok)

BALI, suaramerdeka.com – Salah satu tugas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) adalah menciptakan ekosistem digital, termasuk mendorong SDM di berbagai bidang untuk melakukan transformasi digital.

Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) sebagai mitra strategis pemerintah dalam hal diseminasi informasi publik di akar rumput turut didorong untuk terus bergerak lebih modern dengan mengoptimalkan fungsi-fungsi berbagai teknologi informasi dalam menjalankan tugasnya.

Direktur Tata Kelola dan Kemitraan Komunikasi Publik Kominfo, Hasyim Gautama menjelaskan bahwa transformasi digital melibatkan banyak aspek, salah satunya adalah perlunya meningkatkan kompetensi sumber daya manusia.

Baca Juga: Sim Salabim! Ini Trik Mudah Mengakali Tas Kusammu jadi Terlihat Baru

Lantaran itu, pihaknya terus melakukan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) dalam upaya proses transformasi menuju KIM Digital.

“Tugas kami (Kominfo) adalah mengupayakan agar bangsa ini dapat bertransformasi diri menuju masyarakat digital. Jadi tidak hanya HP saja yang smart, tapi orangnya juga harus smart,” ujarnya dalam Bimtek KIM Seri Kedua yang diselenggarakan secara hybrid dengan mengangkat tema “Transformasi Menuju KIM Digital” di Bali, Rabu kemarin.

Pada Bimtek sebelumnya, KIM telah dibekali dengan kemampuan teknis cara membuat konten foto dan video yang kreatif dan positif. Hal ini menurutnya agar KIM dapat turut membanjiri internet dengan konten-konten positif.

Baca Juga: 202 Pekerja di Sleman di-PHK Terdampak Pandemi

Upaya ini sekaligus bertujuan mengurangi peredaran berita bohong atau hoaks di internet. Ia juga menekankan agar konten-konten yang diciptakan oleh KIM senantiasa menonjolkan budaya dan kearifan lokal masing-masing daerah.

“Kita kan punya budaya masing-masing. Misal ada huruf Bali, ada huruf Jawa, yang merupakan aset budaya nasional dengan karakteristik dan kearifan lokal yang berbeda-beda."

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

X