Azyumardi Sentil Diksi ‘’Penceramah Bersertifikat’’

- Jumat, 18 September 2020 | 11:10 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Cendekiawan muslim Dr Azyumardi Azra mendukung rencana Kementerian Agama meningkatkan kapabilitas dan kompetensi penceramah agama guna meningkatkan pelayanan umat. Namun Azra menyentil diksi ‘’penceramah bersertifikat’’.

“Namun, mungkin diksinya bisa diubah jangan penceramah bersertifikat. Bisa dengan lokakarya, program peningkatan kapabilitas, atau apa. Itu hal teknis, tapi secara substansi, saya setuju,’’ kata Azra saat menjadi narasumber pada “Sosialisasi Program Bimtek Penceramah Bersertifikat”  di Direktorat Jenderal Bimbingan Islam Kementerian Agama, di Jakarta, Kamis (17/9).

Penceramah yang telah mengikuti peningkatan kompetensi ini mendapatkan sertifikat, kata dia, itu tidak masalah. “Saya mendukung program peningkatan kapabilitas dan kompetensi penceramah ini. Apa pun namanya, dulu sempat disebut standarisasi, atau sertifikasi, tapi substansinya peningkatan kapabilitas dan kompetensi penceramah agama kita,” ujar Azra.

Peningkatan kapabilitas dan kompetensi bukan bentuk campur tangan negara dalam kehidupan agama, melainkan bentuk peningkatan pelayanan keagamaan bagi umat. Peningkatan kompetensi  menjadi kewajiban semua.‘’Saya kira ikhtiar Bimas Islam untuk melakukan peningkatan kompetensi dan kapabilitas penceramah ini sangat baik. Saya dukung itu,” kata Azra yang menyampaikan materi tentang "Harmonisasi Negara, Agama, dan Dakwah".

Setidaknya ada tiga kompetensi yang harus dimiliki oleh penceramah agama. Pertama, kompetensi keilmuan dan kecakapan tentang Islam sekaligus kebangsaan atau ke-Indonesiaan. “Seorang dai atau penceramah harus memiliki pemahaman Islam komprehensif, tidak sepotong-potong, adhoc, dan bermuatan politik ideologis dan kekuasaan,” kata Azra.

Baca juga: Norma Agama Jadi Acuan Perilaku ASN Kemenag

Kedua, kompetensi pendekatan dan metodologi dakwah. Seorang penceramah, lanjut Azra, harus memahami cara komunikasi dan penyampaian pesan Islam yang efektif. “Salah satunya, dakwah itu bil hikmah, dengan cara yang baik. Kompetensi ini harus dimiliki oleh penceramah agama,” tuturnya.

Ketiga, kompetensi akhlaqul karimah. “Ini penting bahwa seorang dai atau penceramah harus dapat menjadi tauladan. Apa yang menjadi perbuatannya sesuai dengan perkataan yang disampaikannya,” lanjut Azra.

Dalam menjalankan program peningkatan kapabilitas dan kompetensi penceramah ini, Azra menyarankan pemerintah melibatkan ormas. “Saat ini launching tidak apa dilakukan oleh pemerintah, tapi ke depan dapat diserahkan kepada divisi dakwah masing-masing ormas,” tuturnya.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

X