Media Jadi Korban Peretasan, Sudah Diprediksi Akan Meningkat

- Kamis, 27 Agustus 2020 | 08:00 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Dua media menjadi korban peretasan beberapa waktu lalu, di mana pada media pertama, peretasan yang terjadi merupakan praktik deface, sedangkan yang kedua lebih dalam lagi, kemungkinan sudah berhasil masuk bahkan kemungkinan sebagai super admin. Buktinya beberapa artikel pemberitaan hilang menurut pengakuan redaksi.

Pakar keamanan siber Pratama Persadha menjelaskan bahwa sejak 2019 CISSReC sudah memprediksi bahwa serangan ke berbagai media tanah air akan meningkat. Hal yang sama juga sudah terjadi di luar negeri. Bahkan pada 2018 diberitakan pihak Saudi melakukan peretasan pada situs berita Qatar News Agency. Tanpa diketahui redaksi, ada berita yang menyudutkan Saudi di situs Qatar News Agency dan dijadikan salah satu alasan Saudi untuk mengembargo Qatar sampai saat ini.

“Baik deface maupun memodifikasi isi portal berita, keduanya sudah masuk dalam ranah pelanggaran UU ITE pasal 30 dan juga 32. Intinya pelaku melakukan akses secra ilegal bahkan memodifikasi,” terang chairman lembaga riset keamanan siber CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) ini.

Deface pada website merupakan peretasan ke sebuah website dan mengubah tampilannya, seperti halaman webnya diubah dengan “poster” hoaks. Dari deface peretas bisa saja masuk lebih dalam dan melakukan berbagai aksi, misalnya modifikasi data , bisa jadi ada berita yang diubah, dihapus atau ada membuat berita tanpa sepengatahuan pengelola.

Baca juga: Ini Stimulus Pemerintah Jaga Industri Media di Tengah Pandemi Covid-19

“Ada berbagai tujuan dari seseorang maupun sekelompok melakukan deface. Aksi deface website sering dilakukan untuk menunjukkan keamanan website yang lemah. Tapi juga bisa sebagai kegiatan hacktivist, deface website untuk tujuan propaganda politik. Biasanya upaya tersebut dilakukan dengan menyelipkan pesan provokatif pada website korbannya,” terang Pratama.

Ditambahkan olehnya tujuan lain misalnya untuk melakukan perkenalan tim hackingnya maupun sebagai salah satu kontes dari berbagai forum. “Pada dasarnya, deface website maupun serangan lainnya bisa terjadi pada website yang memiliki celah keamanan. Misalnya credential login yang lemah, kebanyakan orang menggunakan username dan password sederhana agar mudah diingat. Bahkan, menggunakan satu password untuk beberapa akun. Hal ini yang paling sering terjadi, apalagi jika peretasan menggunakan teknik brute force,” jelas mantan pejabat Lembaga Sandi Negara ini.

Editor: Andika

Tags

Terkini

X