Penanganan Stunting Prioritas Nasional, Balitbangtan Panen Inpari Nutri Zinc

- Senin, 24 Agustus 2020 | 11:00 WIB
Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

KUBU RAYA, suaramerdeka.com - Penanganan Stunting di Indonesia menjadi prioritas nasional, karena terkait dengan kualitas SDM generasi penerus bangsa. Tidak hanya berpengaruh pada pertumbuhan tinggi badan anak, stunting juga berpengaruh pada daya tahan tubuh dan pertumbuhan otak. Salah satu penyebab stunting adalah malnutrisi kronis.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Fadjry Djufry mengatakan bahwa selama ini masyarakat mengonsumsi beras tanpa memperhatikan kelengkapan gizi. "Kekurangan gizi Zn juga menjadi salah satu faktor penyebab kekerdilan atau stunting di masyarakat," tuturnya.

Untuk itu, Balitbangtan telah menghasilkan varietas unggul baru (VUB) padi biofortifikasi Inpari IR Nutri Zinc yang memiliki kandungan Zn 6% lebih tinggi daripada Ciherang. Biofortifikasi pada Inpari IR Nutri Zinc diharapkan dapat membantu peningkatan nilai gizi sekaligus mengatasi kekurangan gizi.  “Setelah dilepas 2019 yang lalu, varietas padi Inpari IR Nutri Zinc sebagai padi fungsional untuk mencegah terjadinya stunting telah tersebar ke berbagai penjuru Nusantara,” terangnya.

Sementara, Kementerian Pertanian (Kementan) juga telah menyatakan komitmennya terhadap penanganan isu stunting ini. Kementan selama ini telah berperan aktif dalam upaya percepatan penurunan stunting di Indonesia melalui intervensi berbagai program unggulan.

Baca juga: Angka Stunting di Indonesia Diharapkan Bisa Turun 14 Persen

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo pada saat penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Tujuh Kementerian dan Lembaga sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam penurunan prevalensi stunting atau angka kekurangan gizi di Indonesia pada akhir Oktober tahun lalu menyampaikan bahwa penyebab kerawanan pangan di Indonesia sangat multifaktor, karena itu penyelesaiannya harus dilakukan secara multisektor.

Sinergi multisektor ini nampak di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar), belum lama ini. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalbar bersama dengan Pemkab Kubu Raya melakukan panen varietas ini di Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya dengan hasil cukup menggembirakan, dengan rata-rata hasil 6,28 ton/ha.

Rata-rata hasil tersebut didapat dari ubinan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kubu Raya bersama dengan koordinator BPP Sungai Raya sesaat sebelum panen dilaksanakan. Hasil ubinan 5,2 ton/ha pada daerah yang tanahnya agak keras dan tersampel pada daerah bekas serangan tikus dan 7,36 ton/ha pada daerah yang tanahnya berlumpur, sehingga didapat rata-rata hasil 6,28 ton/ha.

Editor: Andika

Tags

Terkini

X