Jadi Baik pada Tahun Baru Hijriah

- Minggu, 23 Agustus 2020 | 00:15 WIB
SM/Haikal Adithya : SHALAWAT BERSAMA : Ulama kondang asal Surakarta, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf memimpin Tablig Akbar Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1442 Hijriah dan Shalawat bersama di Alun-alun Kota Tegal.
SM/Haikal Adithya : SHALAWAT BERSAMA : Ulama kondang asal Surakarta, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf memimpin Tablig Akbar Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1442 Hijriah dan Shalawat bersama di Alun-alun Kota Tegal.

TAHUN baru Hijriyah, tidak dapat dilepaskan dari proses hijrah Nabi Muhammad SAW. Karena itu, menurut Wakil Rektor 2 IAIN Purwokerto Dr Ridwan MAg, tahun baru harus dimaknai sebagai momen untuk melakukan muhasabah atau koreksi diri terkait dengan capaian-capaian yang telah diraih tahun lalu. Hasil muhasabah kemudian dijadikan dasar untuk melakukan proyeksi dan perencanaan masa depan. Sehingga kemudian, lanjutnya Umat Islam memiliki semangat perubahan dari tahun kemarin, untuk dapat berbuat lebih baik di tahun depan. Ia menjelaskan, spirit dalam berhijrah tidak lain merupakan spirit move on. Yaitu dari posisi yang sekarang ke posisi yang akan datang.

”Dari posisi yang baik, menuju posisi yang lebih baik lagi,” ucapnya. Sementara itu dalam situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini, maka harus ada penyesuaian dari sisi teknis mengenai cara memperingati tahun baru. ”Dulu mungkin diperingati dengan yang sifatnya seremonial seperti karnaval, saat ini mungkin sebaiknya ditiadakan sebagai bagian dari penyesuaian terhadap keadaan ini,” tuturnya.

Ia mengatakan, hal yang sifatnya seremonial seperti karnaval merupakan dimensi instrumental dari tahun baru, namun demikian spirit dari peringatan tahun baru inilah yang justru harus ditangkap. Yaitu, lanjut dia, spirit untuk melakukan perubahan, dengan melakukan pendekatan diri kepada Allah SWT, introspeksi diri, sambil membuat perencanaan untuk berbuat yang lebih baik. ”Spirit hijrah itu spirit perubahan, spirit move on, dari posisi sekarang ke posisi yang akan datang. Dari capaian yang tidak baik menjadi baik, dari yang sudah baik menjadi yang lebih baik lagi,” jelasnya.

Dalam Tahun Baru Hijriah yang menjadi momentum untuk bermuhasabah, maka menurutnya Umat Islam perlu terus berdzikir dan berdoa kepada Allah. ”Ini titik awal memasuki tahun baru tentu harus terus berdoa memohon kepada Allah SWT, kemudian sambil menguatkan tekad untuk tahun depan yang lebih baik lagi,” imbuhnya. Sedangkan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga Shohibul Muayyad menyebutkan tahun baru Hijriah seharusnya diperingati dengan cara yang sudah dianjurkan Allah dalam Al-Qur’an. ”Beribadah kepada Allah, baik wajib maupun sunnah agar senantiasa merasa dekat kepada-Nya. Tahun baru Islam harusnya menjadi momen penting untuk selalu berbenah memperbaiki diri dan meminimalisasi dosadosa yang telah lalu. Jangan gunakan momen ini untuk bersenang-senang yang menjadikan manusia lupa dan lalai kepada Allah,” jelasnya.

Sedangkan mahasiswa Pascasarjana Jurusan SPI UIN Walisongo Semarang Dea Rahmatika memaknai tahun baru Islam dalam sudut pandang sejarah. ”Dilihat dari segi refleksitas ini merupakan momentum berhijrah atau meninggalkan sesuatu yang buruk menuju yang baik. Hal itulah yang juga dilakukan oleh Rasulullah ketika 10 tahun menetap di Makkah dan dia tidak mendapatkan apa-apa dari dakwah yang beliau sampaikan. Kemudian mendapat pencerahan untuk berhijrah ke Madinah dan disambut baik oleh kaum anshor,” ungkap Dea.

Dea juga menyebut agar kita dapat mengambil ibrah dari peristiwa hijrah pada zaman Rasulullah. ”Sebab sebagian orang-orang yang berhijrah ke Madinah adalah kawula muda juga, maka kita bias mengambil pelajaran dari sana. Salah satu tokohnya adalah Zaid bin Tsabit. Apakah ketika kita berhijrah dan hanya membawa bekal yang sedikit mampu untuk berhijrah dan memiliki mental seperti kaum Muhajirin. Mereka sanggup beralih dari zona nyaman demi menemani dakwah Rasul dan menjadi seorang pejuang,”katanya.

Momentum muhasabah juga dikemukakan Mela Pauziah, seorang mahasiswa. Meski perayaan tahun baru Hijriah tidak semegah perayaan tahun baru Masehi, namun perayaan tahun baru Islam merupakan hal yang berarti. ”Selain berdoa, kita juga bisa bermuhasabah diri, serta menjadi waktu yang tepat untuk menyusun sesuatu yang baru.”

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Pintu Nasdem Terbuka Lebar untuk Ridwan Kamil

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:36 WIB

Menyikapi Penurunan Kualitas Demokrasi Selama Pandemi

Kamis, 2 Desember 2021 | 21:23 WIB
X