Dorong Gerakan Sedekah Wifi

- Kamis, 30 Juli 2020 | 00:17 WIB
SM/Saiful Annas : TEMANI BELAJAR: Imam Masruh menemani anak-anak tetangga belajar di rumahnya yang dilengkapi wifi gratis untuk pembelajaran daring, Rabu (29/7). (42)
SM/Saiful Annas : TEMANI BELAJAR: Imam Masruh menemani anak-anak tetangga belajar di rumahnya yang dilengkapi wifi gratis untuk pembelajaran daring, Rabu (29/7). (42)

Tak semua siswa bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh atau kelas dalam jaringan (daring) selama pandemi Covid-19. Selain persoalan ketersediaan ponsel, ketiadaan kuota ataupun jaringan internet menjadi kendala.

RUMAH Imam Masruh (53) seminggu terakhir kerap didatangi anak-anak. Mereka duduk lesehan di ruang tamu dan teras rumah sederhana Imam di RT 2 RW 1 Dukuh Madu, Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Anak-anak itu sibuk membolak-balik halaman buku pelajaran. Sesekali mereka meraih ponsel dan mengetik sesuatu. Dilihat dari usianya, anak-anak itu masih duduk di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

Ada sekitar 10 anak yang ikut menumpang wifi di rumah Imam, Rabu (29/7) pagi. Salah satunya Muhammad Afdan Afrian, siswa SDN 5 Cendono. Dia terlihat serius mengerjakan soal-soal matematika yang diberikan gurunya. Ia duduk bersebelahan dengan Muhammad Tri Efendi, siswa MTs Sunan Muria, yang juga ikut belajar daring di rumah Imam. Jika ada soal yang sulit dikerjakan, Afdan tak ragu bertanya kepada Efendi, atau anak-anak lain yang lebih tua.

Jika tak menemukan jawaban, Afdan melempar pertanyaan kepada Imam, sang pemilik rumah. ”Kalau saya tidak bisa menjawab, anak saya yang membantu menjawab. Kebetulan dia juga guru,” kata Imam. Di rumah bapak enam anak itu, anak-anak mengikuti pembelajaran jarak jauh, mengerjakan soal-soal yang dikirim guru mereka. Imam memang memasang jaringan internet wifi di rumahnya. Dia berbagi secara gratis kepada anak-anak itu agar mereka dapat mengikuti kelas daring.

Imam, yang sehari-hari mencari nafkah sebagai tukang ojek dan guru madrasah diniyah, terpanggil untuk membantu anak-anak tetangganya. Ia menyisihkan penghasilannya untuk membayar biaya internet. ”Saya kerap mendengar cerita dari anak saya, ada murid yang kesulitan belajar karena tidak punya ponsel atau kuota internet. Mendengar itu, saya pun memasang internet dan mempersilakan anak-anak datang memanfaatkannya,” ujar dia. Jika tidak sedang menarik ojek, Imam ikut mendampingi anak-anak belajar. ”Sekadar mendampingi. Siapa tahu ada yang malah asyik main game online, saya ingatkan. Kalau pas saya kerja, anak saya yang mendampingi mereka belajar,” imbuhnya.

Salah satu anak Imam, Misbahuzzaini (27), setia menemani anak-anak tetangganya itu belajar daring. Misbah yang juga guru di MTs Sunan Muria juga sibuk menyampaikan materi pelajaran melalui kelas daring. ”Sekalian memantau murid yang belajar daring, juga ikut menemani anak-anak belajar di rumah lewat wifi gratis ini,” tuturnya.

Dari Keluhan

Sebagai guru, Misbah kerap menerima keluhan dari para orang tua murid. Ada yang mengeluh kewalahan menemani anaknya belajar, hingga boros kuota internet selama belajar daring. ”Mau bagaimana lagi, karena kondisi pandemi seperti ini. Perlu ada semacam gerakan sedekah wifi bagi mereka yang mampu atau memiliki jaringan internet pribadi di rumahnya,” ujar Misbah. Apalagi di Kudus, lanjut dia, infrastruktur jaringan internet sudah relatif baik. Sejak orang tuanya memberikan akses wifi gratis, banyak pihak yang menghubungi Misbah. Mereka hendak memberikan bantuan antena untuk menangkap sinyal internet.

Meski jaringan internet di rumahnya kerap lemot, apalagi ketika banyak anak-anak yang datang, Misbah menolak pemberian itu. Ia menyarankan agar pemberian itu dialihkan ke daerah lain. Misbah yang aktif di Komunitas Fiksi Kudus (Kofiku), komunitas penulis lepas di Kudus, juga mengajak teman-temannya melakukan gerakan serupa. ”Jika di rumah ada jaringan internet, kami mendorong agar dibuka untuk belajar anak-anak. Tapi juga harus diawasi agar tidak disalahgunakan untuk main game,” katanya.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

X