Panen Strawberry di Pekarangan Rumah; Ita Belajar dari Kelompok Tani Perkotaan

Achmad Rifki
- Jumat, 24 Juli 2020 | 22:27 WIB
Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, bersama dengan Direktur Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) Paulus Pangka, saat memanen strawberry di pekarangan rumahnya, Sumurboto (Banyumanik), Jumat (24/7).
Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, bersama dengan Direktur Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) Paulus Pangka, saat memanen strawberry di pekarangan rumahnya, Sumurboto (Banyumanik), Jumat (24/7).

SEMARANG, suaramerdeka.com - Konsep berkebun di lahan terbatas (urban farming) memang semakin gencar berlaku di masyarakat Kota Semarang. Beraneka sayur-mayur dan buah-buahan seringkali ditanam untuk menghiasi kebun tersebut. Aksi ini bahkan turut dicontohkan Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, yang turut memperlihatkan hasil dari berkebunnya di pekarangan rumah. Salah satunya yaitu buah strawberry, yang saat ini sudah bisa dipanen.

''Sejumlah tanaman dibuat dengan konsep polybag. Sementara yang lainnya ada yang ditaruh dalam pot. Bahkan, saya juga buat yang berkonsep hidroponik maupun akuaponik. Untuk yang di pekarangan rumah ada strawberry, cabai, terong, serai, pandan, brokoli, dan selada. Sementara yang di halaman belakang yaitu seledri, kangkung dan sawi. Namun yang baru panen untuk sementara strawberry,'' papar Ita, sapaan akrab Wakil Wali Kota Semarang, saat ditemui di pekarangan rumahnya, di Sumurboto (Banyumanik), Jumat (24/7).

Ketertarikan Ita untuk berkebun dimulai sejak pandemi Covid-19 berlangsung. Menurut dia, orang cenderung menghabiskan banyak waktunya di rumah akibat pandemi tersebut. Untuk itu, bermacam-macam kegiatan yang tetap positif dan bermanfaat perlu untuk terus dilakukan. Dia pun akhirnya memilih berkebun, dengan menanam bermacam-macam tanaman yang bermanfaat.

Untuk menghabiskan waktunya saat berada di rumah. Hasil berkebun tersebut, tambah Ita, dapat digunakan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari pada saat panen. Hal ini tergolong positif, apalagi dapat membantu di saat harga-harga kebutuhan pokok mengalami peningkatan.

''Kondisi ekonomi masyarakat saat ini juga masih dalam keterpurukan akibat Covid-19. Jika ditelateni, konsep berkebun di lahan terbatas ini akan sangat membantu mereka. Saya pun menjalankan ini karena belajar dari kelompok-kelompok tani perkotaan, yang telah sukses menjalankan (urban farming). Seperti yang ada di Pedalangan dan Trimulyo. Maupun browsing di internet,'' ungkap dia.

Adapun pengelolaan kebun di pekarangan dan halaman rumah Ita, dibuat sedemikian rupa agar tata letaknya tetap menampilkan unsur keindahan estetika. Membuat pemandangan di rumahnya, supaya tetap enak di pandang dan dirasakan nyaman.

''Soalnya rumah kan dihuni, tidak jarang ada tamu datang berkunjung. Jadi, estetika lahan dan kebersihan tetap harus dijaga. Untuk mewujudkan itu semua, kita memang harus terus-menerus belajar agar berkembang menjadi lebih baik lagi,'' terang dia.

Editor: Achmad Rifki

Terkini

Gita Amperiawan Jadi Dirut DI yang Gres

Jumat, 28 Januari 2022 | 00:13 WIB
X