Sekolah Sendirian karena Tak Punya Ponsel

- Kamis, 23 Juli 2020 | 00:25 WIB
SM/Ilyas al-Musthofa : TATAP MUKA : Dimas Ibnu Alias, siswa Kelas VII-B SMP 1 Rembang memilih belajar tatap muka sendirian di sekolah lantaran tidak memiliki ponsel.(24)
SM/Ilyas al-Musthofa : TATAP MUKA : Dimas Ibnu Alias, siswa Kelas VII-B SMP 1 Rembang memilih belajar tatap muka sendirian di sekolah lantaran tidak memiliki ponsel.(24)

Ada yang luput dari perhatian bersama. Ketika beras lebih penting daripada kuota internet, anak sekolah dituntut berani memilih jalan lain yang berbeda dari teman-temannya.

PAGI itu, Rabu (22/7) seorang anak turun dari motor yang dikendarai ibunya, Asiatun. Dengan santai dan wajah polos serta berpakaian sekolah lengkap, siswa 13 tahun itu masuk sendirian ke sekolah barunya. Hal itu dialami Dimas Ibnu Alias, siswa kelas VII SMP 1 Rembang. Tidak ada teman lainnya karena memang hanya Dimas yang datang ke sekolah. Teman-teman lainnya belajar online dari rumah menggunakan ponsel atau laptop masingmasing.

Dimas yang berasal dari keluarga sederhana, tidak bisa memiliki sarana pembelajaran daring. Meski demikian, tekadnya tetap kuat untuk bisa menuntut ilmu di sekolah baru. Dengan berani, dia memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya, yakni belajar langsung dengan guru di sekolah.

Kedatangan Dimas disambut kaget oleh kalangan guru, termasuk sang Kepala Sekolah Isti Chomawati. Dengan tergopoh dan haru, mereka langsung memberikan sambutan hangat. Sejumlah sarana protokoler kesehatan segera diberikan dan dipasangkan, salah satunya face shield. Hari itu, Dimas dimas bisa memenuhi keinginannya untuk tetap bisa belajar. Sejenak melupakan pandemi Covid-19 yang makin merajalela di Rembang, dia mendapatkan ”servis VIP” dari guru yang berjadwal pada hari itu secara bergantian.

Dimas adalah anak dari pasangan Didik Suroyo, nelayan harian dan Asiatun, buruh pengeringan ikan. Mereka tinggal di RT 01 RW 01 Desa Pantiharjo, Kecamatan Kaliori, Rembang. Pihak sekolah sudah memastikan Dimas tidak memiliki ponsel pintar seperti siswa lainnya, sehingga diizinkan datang ke sekolah. Barangkali bagi keluarganya, beras jauh lebih dibutuhkan daripada ponsel pintar dan dana untuk membeli kuota. ”Ia diantar ibunya naik sepeda motor. Setelah itu ditinggal, lantaran ibunya bekerja sebagai buruh pengeringan ikan. Selesai pembelajaran, Dimas diantar wali kelas sampai ke rumah,” kata Isti.

Setelah ditelusuri, ternyata cukup banyak Dimas-Dimas yang lain di SMP 1 Rembang. Karena itu, sekolah favorit tersebut memutuskan membuat kebijakan khusus, dengan mengizinkan mereka yang tidak memiliki ponsel pintar belajar di sekolah. ”Tentu saja, dengan protokoler ketat, seperti cek suhu badan, pelindung wajah, masker, dan lainnya. Sudah kami data, ada beberapa siswa yang memang tidak memiliki fasilitas daring. Nanti mereka akan kami bantu belajar offline,” ujar Isti.

Dana BOS

Isti secara terus terang mengakui tidak ada pengalihan dana BOS untuk membantu pemenuhan kuota internet siswa. Jika guru ada, namun hanya sekali dilakukan pada awal masa pembelajaran daring. ”Prinsipnya, sekolah tetap membantu agar hak anak tidak hilang, misalnya dengan pembelajaran tatap muka terbatas atau memberikan materi cetak agar dipelajari di rumah. Selama ini, pembelajaran daring menggunakan WA grup Mapel, terjangkau siswa. Tagihan tugas menggunakan email,” imbuhnya.

Pembelajaran darurat yang merepotkan memang menjadi kenyataan yang dirasakan banyak sekolah. Mereka memiliki berbagai cara unik sebagai bentuk penyiasatan. SMP 2 Rembang misalnya, memilih media radio demi meringankan beban internet siswa. Secara bergilir, guru diminta menyiarkan materi pelajaran melalui radio yang didengarkan oleh siswa dari rumah masing-masing. Siswa diharuskan menulis tugas setelah menyimak dari radio. Kebetulan yang digandeng adalah CBFM, radio milik Pemkab Rembang. Alhasil, tidak ada nilai iklan dalam kerja sama tersebut.

Halaman:

Editor: Agus Toto Widyatmoko

Tags

Terkini

13 Tokoh Ini Berjasa di Balik Lahirnya Sumpah Pemuda

Minggu, 24 Oktober 2021 | 08:26 WIB

Vaksinasi dan Prokes Kunci Pulihnya Sektor Parekraf

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 21:52 WIB
X