Kegiatan Leksikografi Bahasa Komering disambut Antusias Masyarakat

- Senin, 11 Oktober 2021 | 19:29 WIB
Kegiatan Leksikografi Bahasa Komering disambut Antusias Masyarakat (suaramerdeka.com/dok)
Kegiatan Leksikografi Bahasa Komering disambut Antusias Masyarakat (suaramerdeka.com/dok)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Kepala Balai Bahasa Sumatera Selatan, Umar Solikhan mengatakan kegiatan leksikografi bahasa Komering berlangsung dengan baik.

Sebab, masyarakat Komering menyambut baik kegiatan ini, tercermin dari informan dan masyarakat yang antusias memberikan informasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan penelitian ini.

"Penelitian ini, bertujuan untuk mendeskripsikan macam-macam teks sastra lisan berbahasa lisan Komering dan kosa kata apa saja yang bisa diambil dalam teks sastra lisan tersebut," kata Umar kepada wartawan, Senin 11 Oktober 2021.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Waspadai Libur Akhir Tahun, Jangan Sampai Ada Gelombang Ketiga Covid-19

Dari hasil pendeskripsian macam-macam teks sastra lisan ini, lanjut Umar, masyaarakat umum dan dunia pendidikan dapat mengetahui kosa kata apa saja yang terdapat didalamnya.

Pihak yang terlibat dalam kegiatan ini, yaitu pemerintah setempat, tokoh masyarakat, penutur sastra.

"Dengan harapan nantinya dengan hasil penelitian ini akan digunakan dalam penyusunan kamus Komering Indonesia dan sebagai pengetahuan bagi peminat penutur bahasa Komering yang ada di perantauan," tuturnya.

Baca Juga: Pembangunan Tanggul Bodri di Lanji Capai 70 Persen, Diperkirakan November Selesai

Umar menjelaskan bahwa penjaringan data bahasa Komering di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, tepatnya di Kecamatan Gumawang, Belitang.

Data yang dijaring adalah sastra lisan yang dituturkan oleh sejumlah informan dengan menggunakan bahasa Komering.

"Sastra lisan yang diperoleh adalah bubatok, bumiyah, rogoh tanoh dan sebagainya. Sastra lisan yang diperoleh akan diolah secara leksikografis dan dipakai sebagai korpus bahasa Komering yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber penyusunan Kamus Bahasa Komering," jelasnya.

Baca Juga: Hendi Komitmen Upayakan Hak Anak-Anak Penyadang Disabilitas

Umar mengungkapkan bahwa penelitian ini dilakukan seobjektif mungkin, didasarkan semata-mata pada data yang ada pada masa sekarang. Di mana, ada dua jenis data yang dikumpulkan yaitu data primer dan data skunder.

"Data primer diperoleh dengan teknik wawancara dan perekaman. Informan ditetapkan dengan kriteria pertama, penutur asli daerah Komering. Kedua, sehat jasmani dan rohani," ungkapnya.

Ketiga, dapat menuturkan sastra lisan dengan baik, dan keempat bertempat tinggal di daerah Komering.

Baca Juga: Pelatih Jateng Optimistis Atlet Mudanya Masuk Pelatnas Perbakin

Sedangkan data skunder penelitian ini yaitu telaah pustaka untuk menambahkan data-data yang belum lengkap.

"Data yang telah terkumpul dengan menggunakan tahapan-tahapan sebagai berikut, mentranskrip hasil penelitian, menterjemahkan hasil transkrip ke dalam bahasa Indonesia, mengelompokkan dalam bermacam-macam kosa kata," terangnya.

Umar menceritakan bahwa sebagian besar masyarakat Komering di wilayah lokus sudah tidak mengenal lagi sastra lisan Komering, sebab banyak penutur sudah tua dan sebagian lagi sudah banyak meninggal.

Halaman:
1
2
3

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X