Banyak Catatan Merah dalam PPDB

- Sabtu, 27 Juni 2020 | 00:25 WIB
SM/Hanung Soekendro : Yudi Indras Wiendarto
SM/Hanung Soekendro : Yudi Indras Wiendarto

Untuk mengakali sistem, orang tua calon siswa menitipkan nama anaknya kepada seseorang yang dekat dengan SMA 3 Semarang. Ia berani mencabut berkas anaknya dan memasukkan nama anaknya itu ke KK orang di Semarang tersebut. Meskipun sebenarnya, si anak sedang sekolah dan bersama orang tuanya di Bali. Ganjar pun langsung menelepon orang tua siswa itu. Dari percakapan tersebut, orang tua siswa membenarkan bahwa anaknya mendompleng KK di Semarang. ”Ibu, saya tanya, anaknya sekarang tinggal di mana? Ini kok KK-nya sudah tinggal di Semarang sejak Januari 2019,” tanya Ganjar.

Dari ujung telepon itu, Ganjar mendengar bahwa si anak saat ini masih tinggal bersamanya di Denpasar. Ia mengakui bahwa surat keterangan itu tidak benar. ”Anak saya setahun terakhir tinggal di Denpasar bersama saya Pak, memang saya ingin menyekolahkan anak saya di Semarang biar bisa bareng simbahnya. Memang surat yang menyatakan bahwa anak saya sudah tinggal di Semarang sejak Januari 2019 itu tidak benar, Pak,” jawab perempuan itu. Dari keterangan panitia PPDB, Ganjar mendapat laporan bahwa modus mendompleng KK itu banyak dilakukan. Hal itu membuat Ganjar khawatir. Ia pun langsung mencari salah satu lurah di Kota Semarang yang mengeluarkan surat keterangan itu. Dia menyambangi kantor lurah tersebut, namun sudah tutup. Akhirnya, Gubernur menelepon si lurah dan memintanya menghadap.

Sore hari, lurah yang dimaksud itu kemudian menemui Ganjar di rumah dinas. Pertemuan secara tertutup yang juga dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng itu berlangsung cukup lama. ”Tadi saya coba konfirmasi ke lurahnya, dan dia bilang bahwa untuk mengeluarkan SKD, patokannya ya KK. Pada level ini memang tidak ada yang keliru, meskipun setelah diverifikasi tentang anak ini SMPnya di mana, tinggalnya di mana, orang tua di mana, ternyata ada beberapa yang tidak benar,” terang Ganjar. Menurutnya, mendompleng KK menjadi modus baru untuk mengakali sistem PPDB. ‘’Nanti saya laporkan ke Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa ada yang menyiasati seperti ini,” tegasnya.

Kalau sistem tidak diubah, Ganjar yakin modus ini akan terjadi pada PPDB tahuntahun yang akan datang. Nantinya, kalau syarat tinggal hanya setahun, maka setahun sebelum pendaftaran akan banyak orang tua siswa menitipkan anaknya di sekitar sekolah- sekolah yang dituju. ”Saya yakin di sekolah-sekolah yang menjadi incaran siswa atau sekolah favorit, pasti di sekitarnya muncul dadakan orangorang baru. Mereka menyiapkan KK dengan numpang atau mendompleng pada beberapa orang. Ini tidak baik, makanya perlu kita evaluasi secara menyeluruh,” ujarnya.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

X