Masih Ada Peluang Perbaiki Data

- Selasa, 23 Juni 2020 | 00:21 WIB
SM/ Maulana M Fahmi : PANTAU DATA : Panitia PPDB SMA 11 Semarang didampingi Kepala Sekolah Supriyanto memantau data peserta pendaftaran PPDB online. Panitia PPDB 2020 melakukan validasi data dalam waktu tiga hari mulai Senin hingga Rabu (22-24/6).(24)
SM/ Maulana M Fahmi : PANTAU DATA : Panitia PPDB SMA 11 Semarang didampingi Kepala Sekolah Supriyanto memantau data peserta pendaftaran PPDB online. Panitia PPDB 2020 melakukan validasi data dalam waktu tiga hari mulai Senin hingga Rabu (22-24/6).(24)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Calon peserta didik masih diberi kesempatan untuk memperbarui atau mengubah data yang tidak benar. Mereka tidak akan diberi sanksi apabila mau memperbaiki data yang keliru atau dipalsukan tersebut, lalu mendaftar ulang dengan data yang sudah diperbaiki. Namun jika sampai batas akhir validasi masih membandel dan memberikan data palsu, maka kepesertaan dapat dibatalkan. Hal tersebut dikatakan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng Jumeri, Senin (22/6), menanggapi dugaan kecurangan dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini. Validasi data dilakukan panitia PPDB 2020 selama tiga hari, Senin hingga Rabu (22-24/6). Langkah ini merupakan bagian dari respons untuk menanggapi banyaknya pengaduan tentang kecurangan data yang diunggah ke dalam sistem elektronik seleksi siswa baru.

”Aduan itu menyangkut nilai rapor, surat keterangan domisili, kartu keluarga, dan sertifikat kejuaraan untuk pendaftaran. Menindaklanjuti pengaduan itu, semua SMK dan SMA negeri se-Jateng melakukan validasi data selama tiga hari pada tanggal 22-24 Juni,” jelas Jumeri. Dia menegaskan, pelaksanaan PPDB adalah bagian dari penerapan pendidikan karakter secara menyeluruh bagi anak bangsa. Karena itu, kejujuran diletakkan di bagian terdepan. Orang tua dan wali murid harus memberikan data yang sesungguhnya untuk menanamkan akhlak, moral, dan karakter yang baik. Pemikiran peserta didik tidak boleh dikotori berbagai kecurangan dan upaya menghalalkan segala cara untuk masuk ke sekolah yang diidamkan.

Hal senada ditegaskan Gubernur Ganjar Pranowo. Menurutnya, integritas sangat ditekankan dalam PPDB tahun ini. Panitia tidak segan-segan mencoret peserta yang terbukti curang. Dia berkali-kali mengingatkan orang tua dan calon siswa agar jujur dalam pengisian data. Integritas harus menjadi fondasi. ”Ketika mengisi data, harus sesuai kenyataan. Kalau tidak, meskipun calon siswa diterima dan dicek datanya salah, maka langsung kami coret,” kata Ganjar, kemarin.

Gubernur juga mengingatkan orang tua siswa tidak berkolusi untuk mendaftarkan anaknya. Ganjar mengaku mendapat banyak titipan dari orang tua yang menginginkan anaknya masuk sekolah tertentu. ”Banyak yang titip kepada saya, banyak sekali alasannya. Intinya, bagaimana caranya si anak bisa masuk. Jangan seperti itu. Kita harus mengedukasi anak-anak agar jujur. Nggak usah kolusi, ikuti saja aturan,” tegas Ganjar.

Hal itu disampaikannya karena banyak orang tua yang kurang bijak saat menyerahkan berkas PPDB daring. Misalnya kartu keluarga (KK) yang tidak sesuai, seperti tidak tercantum dalam KK minimal satu tahun sesuai ketentuan. Termasuk juga surat pindah tugas kerja orang tua yang bisa disertakan dalam pendaftaran. Hanya, semua akan diverifikasi lebih dulu. ”Tinggal pindah beneran atau tidak, diverifikasi. Sebenarnya verifikasi KK, surat pindah, dan sebagainya itu memang sering tidak clear,” ujar Ganjar.

Di sisi lain, sosialisasi jalur prestasi PPDB dinilai masih kurang. Hal ini dirasakan salah satu orang orang tua siswa di salah satu SMP di Kota Semarang, Rina. Dia mengaku menyesal tidak mengetahui jadwal PPDB SMA/SMK jalur prestasi yang sebenarnya sudah dibuka sejak awal Juni 2020 dan pengumumannya dilakukan pekan lalu. Padahal, anaknya memiliki sertifikat prestasi olahraga, yakni menjadi juara marching band. ”Saya mendaftarkan anak saya di SMA 3 Semarang tapi langsung hilang dari daftar karena nilainya tidak cukup, meskipun masuk zonasi. Saya melihat di sana ternyata banyak anak-anak SMP 1 Semarang yang diterima karena prestasinya di marching band. Saya tidak tahu kalau ada PPDB jalur prestasi,” kata Rina.

Akibatnya, dia mendaftarkan anaknya di SMA lain. Padahal sang anak punya peluang diterima di SMA sesuai keinginannya. Dia berharap ke depan sosialiasi bisa lebih menyentuh orangtua siswa SMP, sehingga prestasi yang diraih para murid bisa digunakan untuk mendaftar di jalur khusus tersebut.

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

X