Terhalang Corona, Boleh Tidak Shalat Jumat Tiga kali

- Jumat, 3 April 2020 | 12:45 WIB
 Prof Dr Abu Rokhmad MAg (Foto dokumentasi)
Prof Dr Abu Rokhmad MAg (Foto dokumentasi)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Umat Islam saat ini banyak bertanya perihal hukum atas tidak menjalankan shalat Jumat hingga tiga kali bahkan lebih. Pertanyaan ini muncul terkait dikeluarkannya fatwa ataupun tausiah Majelis Ulama Indonesia (MUI), termasuk MUI Jawa Tengah yang meminta agar para takmir masjid meniadakan shalat Jumat untuk diganti shalat zuhur di rumah, terkait darurat wabah corona. Sementara pemerintah menetapkan darurat corona hingga 29 Mei 2020.

Menurut Pengajar Ushul Fiqih UIN Walisongo, Semarang sekaligus Sekretaris Komisi Hukum MUI Jawa Tengah Prof Dr Abu Rokhmad MAg, kepada pers, Jumat (3/4), secara hukum fiqih, umat Islam diperbolehkan tidak melaksanakan shalat Jumat hingga 3 kali atau lebih karena ada uzur syar’i atau halangan yang dibenarkan secara syariah.

“Sepanjang ada uzur syar'i maka hukumnya boleh tidak melaksanakan shalat Jumat, yang tidak boleh bila menyepelekan shalat Jumat,” katanya, sembari mengaku akhir-akhir ini banyak anggota masyarakat yang bertanya perihal ini kepadanya.

Dia memaparkan fatwa yang dikeluarkan oleh Grand Syaikh Al-Azhar Mesir, fatwa MUI, fatwa NU dan fatwa Muhammadiyah yang substansinya umat Islam boleh tidak melaksanakan shalat Jumat dengan mengganti shalat zuhur di rumah karena uzur syar’i, yaitu dalam upaya menghindari kemudharatan berupa terpapar covid-19 yang dapat menulari orang lain atau ke dirinya sendiri.

Maka, tegas Prof termuda UIN Walisongo ini, dengan tidak melaksanakan shalat Jumat, bukan berarti tidak beribadah kepada Allah swt, karena diganti ibadah wajib di rumah. Berarti ia berusaha ikut menyelamatkan (maslahat) bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat luas dari bahaya covid-19. Sebab tujuan dari syariat Islam (maqashid al-syariah) adalah mendatangkan kemaslahatan dan menghindari mafsadat (jalbul mashalih wa dar’ul mafashid).

“Menghindari kemudaratan agar tidak terpapar penyakit atau menularkan penyakit kepada orang lain harus didahulukan daripada mengambil manfaat misalnya dengan melaksanakan shalat Jumat, berdasarkan kaidah dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih,” tegasnya.

Pertimbangan lain, menurut Prof Abu Rokhmad, pemerintah atau ulil amri, dalam hal Presiden Jokowi juga telah menetapkan covid-19 sebagai kondisi darurat, maka rakyat wajib taat kepada pemerintah. Masyarakat diminta untuk menjaga jarak, hindari kerumunan, dan menjaga kebersihan dan kesehatan.

“Mari kita berdoa terus menerus Semoga Allah Swt segera menghentikan virus ini dan mendatangkan obatnya,” katanya.

Namun bila sengaja meninggalkan tiga kali shalat Jumat tanpa uzur maka dia ditetapkan sebagai bagian dari kaum munafik. Munafik yang dimaksud adalah kemunafikan dalam bentuk perbuatan, bukan keyakinan. Sebab shalat Jumat adalah kewajiban bahkan lebih wajib dari sembahyang dluhur. Ada pula yang berpendapat mengingikari kewajiban salat Jumat dapat menjadi kafir, sebagaimana Abdurrauf Al-Munawi, Faidhul Qadir, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, tahun 14-15 H/1994 M, juz 6, h. 33.

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

X