Tiga Masjid Besar di Semarang Tak Selenggarakan Shalat Jumat

SM/ Maulana M Fahmi : SEORANGMuadzin mengumandangkan adzan untuk menandai waktu Dhuhur di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang, Jumat (27/3). Salat Jumat dan salat berjamaah di masjid tersebut ditiadakan untuk mentaati fatwa MUI guna menghindari penyebaran virus Covid-19. Berita di halaman 7. (55)
SM/ Maulana M Fahmi : SEORANGMuadzin mengumandangkan adzan untuk menandai waktu Dhuhur di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang, Jumat (27/3). Salat Jumat dan salat berjamaah di masjid tersebut ditiadakan untuk mentaati fatwa MUI guna menghindari penyebaran virus Covid-19. Berita di halaman 7. (55)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Di tengah merebaknya virus korona (Covid-19), tiga masjid besar di Semarang yaitu, Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Masjid Agung Kauman dan Masjid Baiturrahman tidak menyelenggarakan shalat Jumat. Berdasarkan hasil pantauan pada pukul 12.00 siang, gerbang masuk untuk mobil dan motor di Masjid Baiturrahman ditutup rapat. Bahkan tak ada kerumunan orang di dalam masjid tersebut. Biasanya menjelang pelaksanaan shalat Jumat, halaman masjid tersebut selalu ramai dan dipenuhi mobil dan ratusan sepeda motor. Tak hanya itu, di luar gerbang itu juga sepi dari para pedagang dan kerumunan orang. Sekretaris Pengurus Masjid Baiturraman Semarang, Ahmad Setiawan menerangkan, langkah tersebut diambil menyusul wabah virus korona di Jawa Tengah yang kian mengkhawatirkan.

Bahkan, Kota Semarang dinyatakan masuk dalam zona merah. Untuk itu, gerbang Masjid Baiturrahman sengaja ditutup agar tidak ada orang yang melaksanakan shalat Jumat. Kemudian menggantinya dengan shalat Zuhur di rumah masing-masing. ”Termasuk di Masjid Baiturrahman juga tidak menyelenggarakan shalat lima waktu berjamaah. Akan tetapi untuk adzan tetap dikumandangkan sebagai tanda waktu shalat. Tetapi apabila ada orang yang ingin melaksanakan shalat di dalam masjid, tetap diperkenankan masuk. Namun diimbau sebelum wudhu harus menggunakan sabun,” ujar Ahmad, Jumat (27/3). Menurutnya, tidak diselenggarakanya shalat Jumat mengacu fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng yang telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh umat muslim tentang penyelenggaraan ibadah di masjid dalam situasi darurat Covid-19. ”Pada Jumat ini memang tidak dilaksanakan shalat Jumat dulu dan gerbang akan tetap ditutup menunggu fatwa dari MUI kembali,” imbuhnya.

Adapun dalam rujukan fatwa MUI No. 14 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam situasi terjadi wabah Covid-19, MUI Provinsi Jawa Tengah menegaskan, bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan Covid-19 sebagai pandemik global, maka perlu diambil langkahlangkah pencegahan dan penanganan secara khusus agar tidak terjadi penularan lebih luas. Presiden Joko Widoso juga telah menetapkan Indonesia darurat Covid- 19 dan penyebarannya di Jawa Tengah telah terbukti mendekati status zona merah. Karena permasalahan tersebut, maka MUI Jateng memandang dan perlu mengeluarkan tausiyah, diantaranya kepada pengelola masjid dan segenap umat Islam Jawa Tengah untuk tidak menyelenggarakan shalat Jumat pada 27 Maret 2020.

Langkah sama dilakukan pengurus Masjid Agung Kauman. Hal tersebut merupakan kali pertama Masjid Agung Kauman tidak menyelenggarakan ibadah berhukum fardhu ’ain tersebut. Sekretaris Takmir Masjid Agung Kauman, Muhaimin mengatakan, tidak diselenggarakannya shalat Jumat sebagai salah satu antisipasi mencegah penyebaran Covid-19. ”Kami juga melakukan penyemprotan disinfektan setiap dua hari sekali. Jadi, kami bukan berniat untuk membatasi jamaah untuk beribadah. Tapi ini semua demi kebaikan bersama,'' papar dia. Maklumat tersebut disampaikan berdasarkan tausyiah yang dikeluarkan MUI Jateng beberapa waktu lalu. Tidak diselenggarakannya shalat Jumat juga merupakan kesepakatan dari para pengurus atau takmir tiga masjid besar di Kota Semarang yakni Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Masjid Agung Kauman, dan Masjid Baiturrahman Semarang.

Ketua Bidang Ketakmiran Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), KH Hadlor Ihsan menuturkan, tidak diselenggarakannya salat Jumat pada 27 Maret dan salat rawatib, bukan berarti MAJT tidak beroperasi. Akan tetapi masih tetap beroperasi sebagaimana mustinya. Hanya saja ada sejumlah pembatasan terukur sebagai upaya antisipasi wabah virus korona. ”Masjid tidak tutup, masih beroperasi, adzan masih berkumandang, qira masih ada. Ini hanya untuk sementara waktu saja. Ini sebagai langkah antisipatif agar aman semua,” terangnya.

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

X