Khotbah Shalat Jumat Dipersingkat

- Jumat, 20 Maret 2020 | 00:07 WIB
SM/Simon Dodit : DUDUK BERJAUHAN : Umat duduk berjauhan sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19 saat mengikuti Ibadat Tobat yang dipimpin Pastor Kepala Paroki St Theresia Bongsari Romo Eduardus Didik Chahyono SJ di Gereja St Agustinus Wilayah Panjangan, Kota Semarang, Kamis malam (19/3). (24)
SM/Simon Dodit : DUDUK BERJAUHAN : Umat duduk berjauhan sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19 saat mengikuti Ibadat Tobat yang dipimpin Pastor Kepala Paroki St Theresia Bongsari Romo Eduardus Didik Chahyono SJ di Gereja St Agustinus Wilayah Panjangan, Kota Semarang, Kamis malam (19/3). (24)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Shalat Jumat di Jawa Tengah, Jumat (20/3) akan tetap dilaksanakan di masjid, namun dengan protokol kesehatan yang ditentukan untuk antisipasi penyebaran Covid-19. Katib juga diharapkan menyampaikan khotbah singkat terkait antisipasi Covid-19. Ketua MUI Jateng KH Ahmad Darodji mengatakan, mayoritas masjid sudah siap melaksanakan protokol yang akan dijalankan untuk pelaksanaan Shalat Jumat, mulai dengan tidak menggunakan karpet dan mencuci tangan dengan sabun atau handsanitizer.

”Jadi protokolnya, masjid tidak ada karpet. Kedua, sudah disemprot disinfektan, kemudian tempat wudu ada sabun cuci tangan, hand sanitizer,” kata Darodji ”Katibnya khotbah pendek tentang Covid-19. Kemudian imamnya mengakhiri dengan doa qunut nazilah. Ada istighotsah, habis itu jamaah diharapkan segera bubar, tidak berkerumun,” tegasnya. Menurutnya, hal itu dilakukan untuk mencegah Covid-19. ”Biasanya mepet bagus. Namun saat ini harus ada kerenggangan. Seharusnya kerenggangan 1,5 meter, tapi untuk masjid terlalu lebar, nanti tidak cukup sehingga mungkin setengah meter aja,” tandas Darodji.

Kebijakan berbeda diterapkan di DKI Jakarta. Shalat Jumat ditiadakan hingga dua pekan mendatang. Masjid Istiqlal misalnya, memutuskan tidak menggelar Shalat Jumat untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang semakin masif di DKI Jakarta. ”Kepada seluruh pengurus dan karyawan Masjid Istiqlal, mengingat perkembangan Covid-19 di DKI Jakarta khususnya, dan Instruksi Imam Besar Masjid Istiqlal yang merujuk kepada Keputusan Gubernur DKI Jakarta tanggal 19 Maret 2020 pukul 17.50 WB, diputuskan Masjid Istiqlal tidak melaksanakan Shalat Jumat selama dua minggu,” ujar Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal Asep Saepudin. Meski demikian, masyarakat masih bisa Shalat Zuhur di Masjid Istiqlal, namun tidak berjamaah. Seluruh masjid di DKI Jakarta juga diminta mematuhi instruksi tersebut.

Ditiadakan

Langkah serupa diambil umat Katolik. Keuskupan Agung Semarang (KAS) misalnya, telah menginstruksikan semua kegiatan kegerejaan yang melibatkan banyak orang mulai Jumat (20/3) hingga 3 April ditiadakan. Hal ini berarti tidak dilakukan misa harian, misa mingguan, misa lingkungan, renungan APP, jalan salib, hingga latihan untuk Pekan Suci Paskah.

Uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko menyatakan, duka dan kecemasan masyarakat atas merebaknya Covid-19 menjadi duka para gembala dan umat di wilayah KAS. ”Kami sungguh merasakan keprihatinan ini. Tidak sedikit korban sakit dan meninggal. Kita tahu bahwa penularan Covid-19 ini terjadi antara lain karena perjumpaan yang melibatkan banyak orang,” kata Mgr Rubi. Langkah yang dilakukan dengan meniadakan kegiatan kegerejaan selama 15 hari ini untuk membantu mengurangi atau menghentikan laju penularan tersebut. ”Keputusan ini dibuat setelah mendengarkan masukan-masukan dan mengolahnya dalam rapat saya barsama Kuria KAS pada 19 Maret 2020, serta memperhatikan kebijakan Pemerintah Pusat dan daerah,” papar Mgr Rubi.

Misa mingguan akan disiarkan secara online (Doa Komuni Batin atau Spiritual Communion). Ketentuan mengenai Perayaan Pekan Suci akan disampaikan pada waktunya dengan mempertimbangkan perkembangan situasi dan kondisi. ”Saya mengajak para Romo dan seluruh umat Katolik KAS untuk bersamasama meningkatkan rasa solidaritas, kepedulian, dan tanggung jawab sosial kita,” imbuhnya. Sementara itu, Romo Eduardus Didik Chahyono SJ, Pastor Kepala Paroki Santa Theresia Bongsari mengungkapkan, situasi yang terjadi saat ini membuat semua sedih, bahkan juga khawatir. ”Sebagai umat beragama, kita masih ingin selalu bisa beribadah bersama dengan yang lain. Namun kita menyadari bahwa penularan virus ini bisa terjadi melalui sentuhan dan benda-benda di sekitar kita.” Romo Didik berharap, pilihan ini tidak dianggap sebagai ungkapan kurang beriman namun justru kita lakukan dalam kesadaran bersama dengan Tuhan kita ingin mengupayakan kebaikan bersama.

Ada yang menarik juga terkait dengan peribadatan agama Katolik. Menjelang Paskah Umat Katolik biasa mempersiapkan diri menyambut Hari Raya Paskah dengan pengakuan dosa dalam sakramen tobat. Uskup sudah mengeluarkan imbauan dimungkinkannya sakramen tobat dengan memberikan absolusi umum. Biasanya sakramen tobat diterimakan secara privat. Di Gereja Santa Theresia Bongsari dan Gereja St Agustinus Panjangan, Kamis (19/3) misalnya, melaksanakan dengan ibadat tobat secara singkat, umat duduk berjauhan, membakar kertas rincian dosa pribadi sebagai bentuk komitmen meninggalkan cara hidup lama.

Lalu umat diberi denda dosa bersama, doa tobat dan akhirnya berkat pengampunan. Sakramen tobat dengan absolusi umum ini dapat diberikan dengan syarat umat menyesal sungguh atas dosadosanya dan apabila ada dosa berat, dosa tersebut tetap diakukan pada sakramen tobat ketika keadaan sudah membaik. Sakramen tobat dengan metode ini dilakukan untuk mengurangi interaksi sosial dan melindungi umat tidak berada dalam ruang pengakuan yang dimasuki umat secara bergantian. Uskup Agung berdoa dan berharap, para Romo dan saudara semua dalam keadaan sehat. Duka dan kecemasan masyarakat saat ini yang disebabkan oleh merebaknya Covid-19, merupakan duka dan kecemasan kita, baik gembala maupun umat Keuskupan Agung Semarang. Uskup berharap, keputusan ini ditindaklanjuti secepat mungkin demi keselamatan dan kebaikan umat, keluarga, gereja, dan masyarakat.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

X