Tempat Wisata Membludak Usai Kasus Covid Melandai, Ketua Satgas IDI: Revenge Travel ini Harus Diwaspadai

- Jumat, 24 September 2021 | 10:40 WIB
Pengunjung Ancol sempat membludak pertengahan 2021 lalu/Foto Kabar Joglo Semar
Pengunjung Ancol sempat membludak pertengahan 2021 lalu/Foto Kabar Joglo Semar

 

JAKARTA, suaramerdeka.com - Revenge travel yang terjadi di masa penurunan kasus Covid-19 bisa saja menggagalkan usaha yang selama ini dilakukan untuk mengatasi pandemi.

"Revenge travel benar-benar sedang terjadi dan bisa lebih besar lagi gelombangnya. Ini harus diwaspadai. Sebab, SARS-CoV-2 belum ke mana-mana.

Jangan sampai tren itu membatalkan kemajuan situasi pandemi saat ini. Semoga kita bisa bercermin atas keadaan suram Juni dan Juli silam," tulis Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban, dalam akun Twitternya, dilansir dari Kata Data.

Baca Juga: Percepatan Waktu Tempuh 5 Kereta Api Dirilis, Dipangkas hingga 70 Menit

Revenge travel merujuk pada konsep revenge spending yang muncul di Tiongkok pada 1980-an.

Revenge spending dideskripsikan sebagai permintaan konsumen yang berkembang setelah munculnya kemiskinan akibat Revolusi Kebudayaan. Demikian dilansir dari The Washington Post.

Fenomena membludaknya tingkat kunjungan ke tempat hiburan dan obyek wisata ini, tak lepas dari dampak efek pembatasan sosial akibat pandemi Covid-19. Ini yang disebut disebut revenge travel atau wisata balas dendam.

Pada Bulan April 2020, salah satu toko Hermes kedapatan meraup keuntungan hingga US$ 2,7 juta dalam satu hari. Ini menggambarkan perilaku orang kaya membelanjakan uang mereka setelah lama terkungkung karena dikarantina.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Sumber: Kata Data

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pemerintah Terus Berupaya Turunkan Kasus Covid-19

Kamis, 21 Oktober 2021 | 22:31 WIB

PDIP: Desa Sebagai Orientasi Pengabdian

Kamis, 21 Oktober 2021 | 19:31 WIB

Yuk, Mengulik Makna Mengenai Hari Santri Nasional

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:08 WIB
X