Redam Panik akibat Korona

- Minggu, 8 Maret 2020 | 00:40 WIB
SM/dailyexaminer.com.au : BELANJA : Pusat perbelanjaan dipenuhi orang-orang yang berbelanja kebutuhan sehari-hari. (28)
SM/dailyexaminer.com.au : BELANJA : Pusat perbelanjaan dipenuhi orang-orang yang berbelanja kebutuhan sehari-hari. (28)

PEMERINTAH, suaramerdeka.com - mengumumkan dua warga di Indonesia positif mengidap virus Korona atau Covid-19. Itu memicu kepanikan. Tak sedikit orang aksi borong kebutuhan pokok. Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta masyarakat tak perlu panik hingga memborong kebutuhan pokok dan obatobatan. Dia menjamin ketersediaan kebutuhan pokok masih cukup. Pemerintah juga menjamin masker masih cukup, meski ada jenis tertentu langka. Di dalam negeri ada stok sekitar 50 juta masker, meski ada masker tertentu langka.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto meminta masyarakat tetap berbelanja sesuai dengan kebutuhan. Dia memastikan tak kelangkaan barang. Pemerintah menjamin ketersediaan pasokan barang, bahan pokok, dan industri pasar. Agus mengimbau masyarakat tetap tenang, karena pasokan bahan pokok tetap aman sampai Idul Fitri 2020. Apalagi belum ada pembatasan impor dari luar negeri. Barang tetap masuk, bahkan akan diperlonggar, terutama bahan baku industri, kecuali hewan hidup.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memastikan pula stok beras aman. Erick meyatakan hal itu saat meninjau gudang beras Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Sunter, Jakarta Utara. Saat ini Bulog memiliki stok 1,65 juta ton beras di seluruh gudang. Beras itu cukup untuk menghadapi kebutuhan menjelang ramadan. Kepala Satgas Pangan Polri Brigjen Daniel Tahi Monang Silitonga, menyikapi gejala kepanikan warga yang kemudian memborong barang, dengan menerjunkan personel untuk memastikan ketersediaan kebutuhan pokok hingga pendistribusian ke konsumen berjalan baik. Mereka juga mengamankan sentra perbelanjaan yang telah dipetakan. Ada 15 daerah di kota-kota besar yang mengalami lonjakan pembelian.

Satgas Pangan Polri tak main-main terhadap pihak yang memanfaatkan situasi untuk mengambil keuntungan. Penimbun komoditas tertentu akan ditindak. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan, sudah mengisi stok barang yang ludes diserbu warga, Senin (2/3), sesaat setelah pemerintah mengumumkan dua orang positif mengidap Korona. Kepanikan lalu memborong barang terjadi di sejumlah pusat ritel di kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya. Roy menyatakan, langsung menghubungi penyuplai dan pabrik agar menambah stok produk tertentu.

Roy memperkirakan peningkatan penjualan di ritel mencapai 10- 15 persen dari biasa. Bahan pokok yang banyak dibeli adalah beras dan minyak goreng kemasan. Namun dia memastikan saat ini ketersediaan produk itu kembali normal. Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengimbau masyarakat tak panik dalam menyikapi persoalan. Kepanikan dengan aksi borong hanya memperburuk keadaan. Apalagi dalam penggunaan masker dan hand sanitizer. Sebab, kepanikan hanya mempersulit diri dan memicu harga kedua produk itu melambung tinggi. Tulus mengimbau produsen tidak ambil kesempatan dalam kesempitan. Tidak mengeskploitasi masyarakat dengan harga gila-gilaan. Ambil untung secara ugal-ugalan di tengah kesulitan tindakan amoral.

Amankan Warga

YLKI juga meminta pemerintah fokus dan konsisten mengamankan warga yang terpapar dan potensi terpapar virus Korona. Jangan sampai kejadian meluas seperti di beberapa negara. Lembaga itu berharap kasus virus Korona jadi momen bagi pemerintah mengajak masyarakat bertindak promotif preventif, mengutamakan hidup sehat. Bukan hanya meminta masyarakat hanya cuci tangan dengan sabun, tetapi juga tidak merokok.

Pakar virus Herawati Sudoyo menganjurkan masyarakat memakai masker penutup hidung di tengah ancaman penyebaran virus Korona. Singapura dan Jepang sudah menganjurkan pemakaian masker, selain menghindari bepergian ke ruang publik. “Dalam ketidakpastian ini, lebih baik menggunakan masker di ruang publik,” kata Herawati. Dia menyatakan sejumlah pakar di Amerika Serikat dan World Health Organization (WHO) hanya menganjurkan orang yang sakit yang memakai masker. Namun Wakil Kepala Bidang Penelitian Fundamental Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Lembaga Eijkman itu merujuk anjuran Singapura yang sudah jadi episentrum baru penyebaran virus.

Namun sebelumnya Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyatakan masyarakat tak perlu berbondong-bondong membeli dan memakai masker. “Keputusan WHO, yang sakit yang pakai masker. Kalau sehat, ndak usah,” ujar Terawan di Istana Negara, Jakarta, Senin (2/3). Pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia, Budi Haryanto, menyatakan pemakaian masker penting. Jika orang sehat tak ingin memakai masker, itu pilihan masing-masing. Namun dia tetap menganjurkan pemakaian masker bila pergi atau berada di tempat yang banyak orang. “Kalau merasa sehat, enggak pakai masker enggak apa-apa. Tapi kan harus melihat di lingkungan mana. Tak ada salahnya waspada,” ujar Budi.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Sempat Jadi Sultan, Warga Kampung Miliarder Kini Galau

Selasa, 25 Januari 2022 | 22:55 WIB

RK: Kita Tak Pernah Merencanakan Pembangunan Ibukota

Selasa, 25 Januari 2022 | 17:42 WIB
X