Ecofarming Tekan Biaya Produksi Hingga 70 Persen

- Senin, 20 September 2021 | 16:40 WIB
Ecofarming di Cianjur/Foto womantalk
Ecofarming di Cianjur/Foto womantalk

BANDUNG, suaramerdeka.com - Bank Indonesia melalui program pengembangan klaster pangan mendorong petani untuk melakukan pengembangan proses garapannya dengan integrated ecofarming berbasis microbakter alfaafa (MA-11).

Metode itu disebut mempunyai keunggulan di samping meningkatkan produktivitas, yakni mampu menekan biaya produksi hingga 40-70 persen hingga bisa diandalkan untuk memitigasi perubahan iklim global seperti kekeringan, badai, banjir sehingga mengancam keberlangsungan lahan pertanian.

Menurut Kepala Bank Indonesia Jabar, Herawanto, program produk organik tersebut diharapkan bisa diadop 60 klaster pangan mitra mereka di wilayahnya termasuk di wilayah Priangan Timur dan Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning).

Baca Juga: BTS Pakai Baju Tradisional Ucapkan Happy Chuseok Day, Ini Maknanya

"Metode tersebut dipilih dengan pertimbangan untuk melakukan sistem budidaya pertanian yang ramah lingkungan, zero waste, meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan, sustainable farming, dan menghasilkan produk pangan sehat," katanya dalam keterangannya, Senin (20/9).

Dijelaskan, klaster pangan yang menerapkan metode ecofarming tersebut di antaranya Kelompok Sri Makmur III dan Kelompok Cinta Tani yang berada di Kabupaten Indramayu dengan luas lahan masing-masing seluas 1 Hektare.

Mereka panen setelah 120 hari sejak penanaman atas varietas Bawor, Batuta, Ciherang, dan MSP 01 Modif.

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari substitusi atas pola pertanian berbasis kimia yang cenderung berbiaya tinggi sehingga dalam jangka panjang menurunkan kualitas tanah.

Baca Juga: Keliru Menginjak Pedal, Mobil Terjun Bebas Masuk Kanal

Secara pasar, kata Hera, pihaknya meyakini bahwa produk padi organik tersebut memiliki potensi pasar yang cukup besar.

Permintaan domestik maupun global akan produk organik semakin meningkat sejalan dengan peningkatan tren gaya hidup sehat dan “back to nature” di tengah masyarakat.

"Apalagi, tren itu semakin terakselerasi akibat pandemi Covid-19 yang membuat orang semakin peduli tentang asupan makanan yang dikonsumsi. Kondisi ini diharapkan dapat menjadi momentum dan peluang bagi seluruh pelaku pertanian, khususnya klaster mitra untuk dapat terus meningkatkan produktivitasnya," jelasnya.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Rais Aam PBNU Putuskan Muktamar 17 Desember

Jumat, 26 November 2021 | 23:03 WIB
X