Borobudur dan Prambanan Mulai Dibuka

- Sabtu, 18 September 2021 | 01:20 WIB
SM/Dananjoyo Kusumo : MENGECEK SARANA: Petugas mengecek sarana bagian dari protokol kesehatan dalam menyambut uji coba pembukaan wisata candi di Kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (17/9). (55)
SM/Dananjoyo Kusumo : MENGECEK SARANA: Petugas mengecek sarana bagian dari protokol kesehatan dalam menyambut uji coba pembukaan wisata candi di Kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (17/9). (55)

MAGELANG, suaramerdeka.com - Beberapa tempat wisata di Jawa Tengah mulai dibuka atau diujicobakan.

Pembukaan tempat tersebut sesuai dengan Instruksi Menteri Dalam Negeri 42/2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 4, Level 3, dan Level 2 Corona Virus Disease 2019 di Wilayah Jawa dan Bali.

Uji coba pembukaan tempat wisata dilakukan di Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan situs Ratu Boko, Jumat, (17/9).

Berdasarkan diktum kelima huruf k dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri 42/2021, uji coba pembukaan tempat wisata menerapkan protokol kesehatan (prokes) seperti wajib menggunakan aplikasi PeduliLindungi bagi wisatawan dan pekerja tempat wisata.

PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, sebagai lembaga yang menaungi ketiga tempat tersebut, juga mengatur bahwa wisatawan mesti menerima vaksin minimal tahap pertama dan suhu tubuhnya kurang dari 37,3 derajat celsius.

”Untuk Borobudur dan Prambanan kami menetapkan kuota maksimal sejumlah 7.500 orang di dalam kawasan. Angka ini termasuk wisatawan, pegawai, pedagang, serta tamu,” jelas Direktur Utama PT TWC Edy Setijono saat acara uji coba pembukaan di Taman Wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, kemarin.

Edy menegaskan, tujuan utama uji coba tersebut bukan demi mendapatkan pengunjung sebanyak-banyaknya, melainkan memastikan protokol kesehatan tetap dipatuhi.

Turut hadir dalam kegiatan hari itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. Dia mengatakan Kabupaten Magelang cukup baik dalam penanganan Covid-19, sehingga uji coba ini diharapkan mampu memulihkan kondisi perekonomian.

”Dengan dilakukannya simulasi aplikasi PeduliLindungi, menunjukkan bahwa kita belum baikbaik saja, masih perlu waspada, protokol kesehatan harus kita taati, tidak semena-mena, tidak nyepelekno (menyepelekan, red),” pungkas Yasin.

Sanksi Tegas

Sementara itu, pemerintah meminta agar pengelola tempat wisata tetap memperhatikan protokol kesehatan. Bila melanggar sanksi tegas bakal diterapkan.

Di Pati, para pengelola tempat wisata ditunjukkan simulasi pembukaan tempat wisata alam dengan tetap menaati protokol kesehatan.

Simulasi itu dilakukan di Agro Wisata Jollong baru-baru ini. Dinporapar memperlihatkan kepada para pengelola wisata bagaimana protokol kesehatan saat masuk dan menikmati tempat wisata.

Simulasi dimulai dari pintu masuk. Petugas memeriksa suhu badan dan pemakaian masker. Bagi yang tidak pakai masker tidak diperkenankan masuk.

Total ada 20-an lebih pengelola wisata alam yang mengikuti kegiatan ini. Plt Kepala Dinporapar Pati, Edi Sulistyono mengatakan, pembukaan wisata lantaran Pati memang sudah masuk pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di level 2.

Hanya saja kontrol tempat wisata bakal tetap diperhatikan. ”Seperti pengunjung maksimal 50 persen dari kapasitas tempat wisata. Hal itu sebagai antisipasi kerumunan.

Apalagi pandemi belum berakhir. Karena itu kami kumpulkan para pengelola wisata untuk melakukan simulasi dulu. Sehingga mereka tahu apa yang harus dilakukan saat ada pembukaan destinasi,” terang Edi usai meninjau simulasi tersebut.

Dia menegaskan, penerapan protokol kesehatan secara ketat memang merupakan aspek terpenting dalam pembukaan pariwisata. Sehingga tidak timbul klaster Covid-19 di tempat wisata.

Mulai pintu masuk, pengawasan di dalam destinasi harus dipersiapkan. ”Biasanya ada pengunjung yang waktu masuk pakai masker, tapi begitu sudah di dalam, masker dicopot.

Kemudian bergerombol juga. Itu harus diingatkan oleh pengelola,” tegasnya. Sementara itu, Bupati Pati Haryanto menyebut tak segan menutup jika ditemukan yang tak taat.

Pihaknya bahkan mengaku telah ada tim khusus yang memantaunya. Sudah ada sejumlah ketentuan untuk dibukanya tempat wisata selama pandemi, yakni sesuai instruksi bupati.

”Pembukaan wisata itu juga dilakukan bertahap sebagai antisipasi penyebaran Covid-19 yang ada di Pati. Pihaknya tidak menginginkan adanya klaster dalam proses darmawisata yang dilakukan sejumlah penduduk di lingkungan wisata Pati,” imbuhnya.

Selain itu, Bupati juga mengimbau untuk warga kabupaten Pati tidak serta merayakan berlebihan atas turunnya level yang ada.

”Saya berpesan, kita jangan terlalu euforia. Harus hati-hati karena pandemi Covid-19 masih ada. Tetap memakai masker dan menghindari kerumunan,” imbuhnya.

Turunkan Level

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Brebes berupaya keras menurunkan level PPKM dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat.

Untuk diketahui, berdasar Instruksi Menteri Dalam Negeri 42/2021 yang dikeluarkan 13 September lalu, Brebes menjadi satu-satunya daerah di Jawa Tengah yang menerapkan PPKM Level 4.

Baru-baru ini, Pemkab Brebes bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Brebes memvaksin para pelaku dan pengelola pariwisata. Vaksinasi digelar di dua tempat yakni di Islamic Center dan Pendopo Bupati Brebes.

”Dampak Covid-19, menjadikan tempat wisata terpaksa ditutup sementara yang menjadikan seluruh pelaku dan pengelola pariwisata mengalami penurunan penghasilan.

Saya minta maaf, karena semata-mata untuk mengendalikan penyebaran Covid-19,” ujar Bupati Idza Priyanti dikutip dari situs resmi Pemkab Brebes. Dia meminta, baik pelaku maupun pengelola pariwisata supaya bersabar karena mobilitas masyarakat dan kerumunan tidak diperbolehkan.

”Ada 50 destinasi wisata yang tersebar di wilayah Kabupaten Brebes tutup sementara akibat kebijakan PPKM,” terangnya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sama sekali tak menurunkan target tracing dan testing meskipun angka kasus di provinsi itu terus mengalami penurunan. Pj Sekda Jateng Prasetyo Aribowo dalam paparannya saat rapat penanganan Covid-19, belum lama ini menerangkan, rasio testing dan tracing di Jateng justru terus digenjot.

Pada minggu ke-36 saja, rasio testing di Jateng mencapai 217,58 persen. ”Jumlah itu meningkat dari minggu ke-35 kemarin yang hanya 147,77 persen,” katanya.

Beberapa daerah di Jateng lanjut Prasestyo sudah mencapai rasio testing lebih dari 100 persen. Hanya tujuh Kabupaten/Kota yang rasio testingnya masih di antara 50-100 persen. ”Tapi tidak ada daerah yang rasio testingnya di bawah 50 persen,” jelasnya.

Sementara untuk tracing, 6 kabupaten/kota yakni Kudus, Jepara, Batang, Rembang, Klaten, dan Temanggung sudah memenuhi rasio, yakni 15 orang per satu kasus positif. Sementara sisanya lanjut dia, masih belum mencapai rasio itu.

”Untuk itu kami minta tracing ditingkatkan agar sesuai rasio yang ditentukan,” jelasnya. Sementara terkait kondisi Covid-19 di Jateng, Prasetyo menerangkan bahwa angka penambahan kasus terus menurun. 

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

X