WHO: Awas Lonjakan Mobilitas Warga

Red
- Jumat, 17 September 2021 | 14:18 WIB
SM/Dananjoyo - PENGUNJUNG yang hemdak menonton di Cinema XXI disalah satu mall di Sleman, DIY memilih tempat duduk, Kamis (16/9). Beberapa aturan yang diterapkan pengunjung yang akan menonton bioskop, yakni telah melakukan vaksinasi dua kali terverifikasi Peduli Lindungi, dan kapasitas penonton 50 persen. (70)
SM/Dananjoyo - PENGUNJUNG yang hemdak menonton di Cinema XXI disalah satu mall di Sleman, DIY memilih tempat duduk, Kamis (16/9). Beberapa aturan yang diterapkan pengunjung yang akan menonton bioskop, yakni telah melakukan vaksinasi dua kali terverifikasi Peduli Lindungi, dan kapasitas penonton 50 persen. (70)

Terbanyak ke Tempat Ritel dan Wisata

JAKARTA -Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti tingginya mobilitas warga Indonesia di tengah pandemi Covid-19 sepekan terakhir.

Hal itu disampaikan WHO melalui laporan situasi Covid-19 mingguan per 15 September 2021. WHO menyoroti pergerakan masyarakat di Jawa- Bali yang meningkat paling tinggi.

Bahkan, mobilitas warga dinilai menyerupai kondisi sebelum pandemi terjadi di Indonesia. ”Peningkatan mencolok terkait mobilitas masyarakat di ritel dan tempat rekreasi, terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Banten, di mana tingkat mobilitas mencapai seperti sebelum pandemi,” tulis laporan WHO, Kamis (16/9).

Dalam grafik yang juga ditampilkan WHO, terlihat tingkat mobilitas warga di tempat rekreasi dan ritel di Jabar menyerupai grafik mobilitas yang terjadi pada periode 3 Januari-6 Februari 2020, masa prapandemi. Seperti diketahui, kasus Covid-19 di Indonesia kali pertama diumumkan pada 2 Maret 2020. Hal serupa terjadi di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten.

Namun yang perlu juga diperhatikan, peningkatan mobilitas warga yang lebih meningkat ternyata pernah terjadi pada masamasa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro pada Mei 2021.

Melihat temuan itu, WHO meminta agar pemerintah memikirkan kebijakan yang nyata guna mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19 kembali akibat mobilitas warga yang tak terbendung. ”Formulasi dan rencana konkret diperlukan untuk mengantisipasi dan mengurangi kemungkinan dampak peningkatan mobilitas transmisi dan kapasitas sistem kesehatan di tingkat nasional dan wilayah,” kata WHO.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat tingkat mobilitas masyarakat di berbagai tempat publik meningkat pada Agustus 2021 dibandingkan bulan sebelumnya. Khususnya, di tempat transit dan tempat perdagangan/ritel serta rekreasi.

Kepala BPS Margo Yuwono merinci, tingkat mobilitas masyarakat di tempat transit meningkat dari minus 45,3 persen menjadi minus 37,4 persen. Begitu juga dengan tempat perdagangan ritel dan rekreasi dari minus 20 persen menjadi minus 12,4 persen. Sementara di tempat kerja naik dari minus 28,9 persen menjadi minus 22,8 persen.

Halaman:

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Pemerintah Terus Berupaya Turunkan Kasus Covid-19

Kamis, 21 Oktober 2021 | 22:31 WIB

PDIP: Desa Sebagai Orientasi Pengabdian

Kamis, 21 Oktober 2021 | 19:31 WIB

Yuk, Mengulik Makna Mengenai Hari Santri Nasional

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:08 WIB
X