Soeharto Gerakkan Rakyat Muslim untuk Sedekah Bersama-sama

- Jumat, 29 November 2019 | 06:15 WIB
Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

JAKARTA, suaramerdeka.com - Presiden RI kedua, HM Soeharto dinilai tak hanya memperhatikan sisi duniawi warganya saat memimpin negeri ini. Namun, Pak Harto disebut juga memikirkan tabungan akhirat rakyatnya, setidaknya kalangan pegawai negeri, sipil maupun militer.

Penilaian itu diutarakan putri sulung almathum, Siti Haryanti Rukmana yang akrab dipanggil Mbak Tutut, saat memberikan sambutan pada acara ‘Penghargaan Masjid Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (YAMP) Terbaik 2019’ atau “999 Fastabiqul Khairat”, yang digelar di Gedung Granadi, Jakarta, Kamis (28/11).

Menurut Mbak Tutut, dirinya selalu teringat pesan Pak Harto untuk senantiasa merawat sebuah langgar kecil di desa kelahiran ayahnya, Desa Kemusuk, Yogyakarta. Masa kecil Pak Harto, kata dia,  sangat terkait dengan langgar tempat dirinya belajar dan menemukan kedamaian dalam Islam. “Itu yang membuat almarhum berwasiat untuk senantiasa memelihara langgar penuh sejarah tersebut,” kata Mbak Tutut.

Ketika dipercaya menjadi presiden, hal yang konsisten dilakukan Pak Harto di awal 1970-an itu adalah melakukan perjalanan diam-diam, incognito alias blusukan menemui rakyatnya. Dalam perjalanan yang hanya ditemani ajudan dan  pengawal itu, Pak Harto  sering mendapati rakyat tengah meminta sumbangan di tepi jalan bagi pembangunan masjid.

“Pak Harto mengaku merasa trenyuh, melihat rakyat terpaksa meminta sumbangan ke sana ke mari, bahkan tak jarang menghadang di jalan, untuk membangun masjid karena cinta mereka kepada masjid,” kata Tutut.

Dibebani keprihatinan itu, Pak Harto sempat beberapa waktu merenung. Didapatlah solusi, sekaligus dengan melibatkan sepenuhnya partisipasi rakyat mencukupi keperluan mereka sendiri.

“Bapak menggerakkan rakyatnya yang Muslim untuk bersedekah bersama-sama. Beliau berfikir, kenapa tidak para pegawai negeri sipil dan anggota militer yang Muslim ikut beramal membangun masjid, sebagai amal ibadah yang akan mereka bawa sampai mati? Bapak pun meminta keikhlasan para pegawai negeri itu untuk dipotong gajinya. Sedikit setiap bulan. Ada yang dipotong Rp 50, Rp 100, Rp 500 dari besaran gaji,” kata Tutut. Itulah, kata dia, dana yang kemudian digunakan untuk membangun masjid-masjid di seantero Tanah Air.

Memelihara dan Menjaga

Bila saat ini ada yang menuding Pak harto korupsi dengan memotong gaji para pegawai negeri itu, kata Tutut, tuduhan tersebut sama sekali tak benar. “Almarhum hanya ingin mengajak seluruh umat Islam yang PNS dan anggota militer ikut beramal salih melalui Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila,” kata dia.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

Gita Amperiawan Jadi Dirut DI yang Gres

Jumat, 28 Januari 2022 | 00:13 WIB
X