Menyusuri Jejak Semarang hingga Belanda

- Jumat, 17 September 2021 | 01:00 WIB
SM/Aristya Kusuma V - Muhammad Yogi Fajri.
SM/Aristya Kusuma V - Muhammad Yogi Fajri.

Kiprah Yogi Fajri Menjaga Bangunan Bersejarah

”Bangunan-bangunan bersejarah itu semacam ingatan kota. Situs bangunan adalah memori sebuah kota. Saat memori sebuah kota dihilangkan, berarti menghilangkan ingatannya. Saat kota kehilangan ingatannya, menjadilah kota yang gila.”

MUHAMMAD Yogi Fajri terus mengingat ucapan almarhum Prof Ir Eko Budihardjo, MSc, pakar dan akademisi arsitektur internasional asal Purbalingga, yang dikutip oleh pegiat cagar budaya Kota Semarang, Tjahjono Rahardjo, dalam seminar pada 2015.

Konsep itulah yang hingga kini dia jadikan prinsip dalam melakoni kiprah sebagai pegiat sejarah Kota Semarang. ”Jika kotanya saja gila, seperti apa warganya?” ungkap Yogi.

Anggota Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC, organisasi nonprofit internasional yang bertujuan mengasah kemampuan kepemimpinan anak muda) angkatan 2009 tersebut mempunyai perjalanan panjang terkait sejarah Kota Semarang.

Bersama Komunitas Sejarah Lopen Semarang yang dia dirikan pada 27 Desember 2012, berbagai kegiatan telah digelarnya. Antara lain Jelajah Spoorlaan (2013), Pameran Kuno Kini Nanti bekerja sama dengan Ertim Heritage Concultancy (2013), Jelajah Benteng Willem I (2013), Heritage Race (2014), Berbagi Bersama #1 (2013) & #2 (2017).

Kemudian, memproduksi film berjudul ”Twaalf Uur van Semarang” kerja sama dengan Yayasan Budaya Widya Mitra Semarang (2015), Jelajah Warisan Karsten (2016), workshop Digging4Data bersama Huib Akihary (2016), dan Jelajah Jalur Trem Semarang (2017).

Komunitas Sejarah Lopen juga menggelar pameran sejarah tentang kehidupan dan karya arsitek Belanda yang berkarya di Indonesia, Herman Thomas Karsten, bertajuk ”Indonesia Bersatoelah, Indonesia Bermoelialah”, pada 2016. Pameran ini didukung oleh Kedutaan Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia dan bekerja sama dengan Yayasan Budaya Widya Mitra Semarang.

Acara digelar di Contemporary Art Gallery, Kota Lama, Semarang. ”Kota yang mempunyai perhatian khusus dan serius terhadap bangunan bersejarah, pasti pembangunannya akan jauh lebih baik daripada yang tidak,” tutur Yogi. Kenapa? Menurut alumnus Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro itu, sejarah berulang.

Halaman:

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Pemerintah Terus Berupaya Turunkan Kasus Covid-19

Kamis, 21 Oktober 2021 | 22:31 WIB

PDIP: Desa Sebagai Orientasi Pengabdian

Kamis, 21 Oktober 2021 | 19:31 WIB

Yuk, Mengulik Makna Mengenai Hari Santri Nasional

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:08 WIB
X