Indonesia Jadi Presidensi G20 2021, Airlangga Sebut 3 Manfaat Besarnya

- Rabu, 15 September 2021 | 09:36 WIB
Menko Airlangga Hartarto (suaramerdeka.com/dok)
Menko Airlangga Hartarto (suaramerdeka.com/dok)

 

JAKARTA, suaramerdeka.com - Pemerintah Indonesia bersiap untuk menyelenggarakan KTT G20 setelah menjadi Presidensi G20 pada tahun 2022 mendatang.

Tongkat estafet Presidensi G20 akan diserahkan secara resmi Perdana Menteri Italia kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang akan diselenggarakan di Roma, Italia, tanggal 30-31 Oktober mendatang.

Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto dalam Keterangan Pers Bersama mengenai Presidensi Indonesia di G20 Tahun 2022, Selasa 14 September 2021 malam, secara virtual.

Airlangga mengungkapkan, Presidensi G20 ini akan membawa manfaat yang besar bagi Indonesia.

Baca Juga: Pancasila sebagai Ideologi Adalah Doktrin, Sosialisasinya Harus Inspiratif dan Persuasif

“Setidaknya ada tiga manfaat besar yang bisa diperoleh Indonesia, baik dari segi ekonomi, pembangunan sosial, maupun manfaat dari segi politik,” ucap Airlangga yang juga ditunjuk sebagai Ketua I Bidang Sherpa Track.

Airlangga menyebutkan, pada aspek ekonomi, kunjungan delegasi negara G20 akan dapat meningkatkan konsumsi domestik, peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB), hingga menyerap tenaga kerja.

“Di aspek ekonomi, beberapa manfaat langsung adalah peningkatan konsumsi domestik yang diperkirakan bisa mencapai Rp1,7 triliun rupiah, penambahan PDB hingga Rp7,47 triliun, dan pelibatan tenaga kerja sekitar 33 ribu di berbagai sektor,” ungkap Airlangga.

Hal tersebut, kata Airlangga diperkirakan dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar dibandingkan saat Indonesia menjadi tuan rumah International Monetary Fund (IMF)-World Bank Annual Meeting di Nusa Dua, Bali, tahun 2018 lalu.

Baca Juga: Status PPKM Brebes Naik ke Level 4, Diduga Akibat Delay Data

“Diharapkan secara agregat ini akan beberapa kali 1,5-2 kali daripada efek yang dicapai dalam pertemuan IMF-World Bank di tahun 2018 yang lalu, karena pertemuan ini berjalan sekitar 150 pertemuan selama satu tahun atau selama 12 bulan,” ungkapnya.

Selain itu, tambah Airlangga, pertemuan ini juga dapat dijadikan momentum bagi Indonesia untuk menampilkan keberhasilan reformasi struktural berupa dikeluarkannya Undang-Undang Cipta Kerja dan Lembaga Pengelola Investasi (Sovereign Wealth Fund/SWF).

“Tentunya ini akan mendorong confidence dari investor global untuk percepatan pemulihan ekonomi dan mendorong kemitraan global yang saling menguntungkan,” harap Menko.

Sementara dari aspek pembangunan sosial, Indonesia berpeluang untuk mendorong topik terkait dengan produksi dan distribusi vaksin.

Baca Juga: Harga Emas Tembus Level Psikologis, Usai Kemunduran Dolar Seiring Kenaikan Inflasi AS

“Kami terus mendorong agar vaksin ini menjadi global public goods dan juga aksesibilitas bagi masyarakat Indonesia dan negara berkembang yang berpendapatan rendah,” tandasnya.

Presiden Joko Widodo akan menghadiri penutupan KTT G20 di Roma pada tanggal 30-31 Oktober mendatang, lalu menerima secara resmi penyerahan tongkat estafet Presidensi G20 dari PM Italia kepada Presiden Republik Indonesia,” ujar Airlangga.

Selanjutnya, Presidensi G20 Indonesia secara resmi akan dimulai tanggal 1 Desember 2021 hingga 30 November 2022.

Sejak forum ini dibentuk pada 1999 yang lalu, ini merupakan kali pertama Indonesia menjadi Presidensi G20.

Dalam presidensi ini, Indonesia akan mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger” atau “Pulih Bersama, Bangkit Bersama”.***

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jokowi Didesak Batalkan TWK

Sabtu, 18 September 2021 | 01:50 WIB

Hadapi Ledakan Mobilitas Penduduk

Sabtu, 18 September 2021 | 01:39 WIB

Polres Usulkan IPAL di Polokarto

Sabtu, 18 September 2021 | 01:28 WIB

Borobudur dan Prambanan Mulai Dibuka

Sabtu, 18 September 2021 | 01:20 WIB
X