Pangan Berbasis Kemandirian Semakin Menguat di Masa Pandemi, Mulai Urban Farming Hingga Pesantren Ekologi

- Selasa, 14 September 2021 | 20:12 WIB
URBAN FARMING: Anis Hidayah memaparkan praktik bertani urban farming dalam dialog interaktif secara daring bertajuk "Perkotaan dan Perdesaan dalam Pemenuhan Kedaulatan Pangan dan Pengembangan Kewirausahaan Lestari di Pulau Jawa", Selasa (14/9). (suaramerdeka.com/Hartatik)
URBAN FARMING: Anis Hidayah memaparkan praktik bertani urban farming dalam dialog interaktif secara daring bertajuk "Perkotaan dan Perdesaan dalam Pemenuhan Kedaulatan Pangan dan Pengembangan Kewirausahaan Lestari di Pulau Jawa", Selasa (14/9). (suaramerdeka.com/Hartatik)

Pertanian berbasis agroekologi menjadi sistem tata kelola dan tata produksi dari hulu ke hilir dengan mengedepankan kearifan lokal.

Dalam mengembangkan pertanian, Nissa mengadopsi budaya lanskap sunda yakni Buruan Bumi (kebun pekarangan keluarga) dan Kebon Talun (hutan sosial komunitas/desa).

Hasilnya benih yang dihasilkan unggul dan tangguh sekalipun menghadapi perubahan iklim.

Lebih lanjut, pandemi dan perubahan iklim menyadarkan pentingnya agroekologi berbasis keanekaragaman sebagai potensi besar membangun kemandirian.

Baca Juga: Masak Pare Biar Pahitnya Hilang, Ini Nih Rahasianya

Agroekologi menjadi landasan penting untuk membangun ekonomi solidaritas dan kolaboratif di masa pandemi.

"Agroekologi mampu berbagi dengan tetangga dan saling meringankan. Sawah adalah gudang makanan kami. Banyak genjer, enceng, jamur tanpa ditanam. Silakan siapapun yang mau mengambil dibebaskan karena tanah ini berfungsi sosial," ujarnya.

Bagi Nissa, agroekologi bukan hanya kedaulatan pangan keluarga tapi menjangkau benih, tanah, air hingga aspek kehidupan rumah tangga, negara dan bumi ini. Apalagi agroekologi mampu membangun ekonomi kreatif melalui wirausaha kolektif.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X