Pangan Berbasis Kemandirian Semakin Menguat di Masa Pandemi, Mulai Urban Farming Hingga Pesantren Ekologi

- Selasa, 14 September 2021 | 20:12 WIB
URBAN FARMING: Anis Hidayah memaparkan praktik bertani urban farming dalam dialog interaktif secara daring bertajuk "Perkotaan dan Perdesaan dalam Pemenuhan Kedaulatan Pangan dan Pengembangan Kewirausahaan Lestari di Pulau Jawa", Selasa (14/9). (suaramerdeka.com/Hartatik)
URBAN FARMING: Anis Hidayah memaparkan praktik bertani urban farming dalam dialog interaktif secara daring bertajuk "Perkotaan dan Perdesaan dalam Pemenuhan Kedaulatan Pangan dan Pengembangan Kewirausahaan Lestari di Pulau Jawa", Selasa (14/9). (suaramerdeka.com/Hartatik)

Terpisah, Nissa Wagadipura (Pendiri Pesantren Ekologi Ath-Thariq) sepakat bahwa sistem pangan berbasis kemandirian mampu mendorong gerakan sosial, terutama pada momen pandemi, untuk mengembalikan keagrarisan nusantara.

Salah satunya melalui implementasi agroekologi. Selama 20 tahun bergelut dalam advokasi di wilayah konflik agraria, Nissa sadar bahwa sertifikasi lahan bagi petani tidak menjamin mereka bisa hidup sejahtera tanpa adanya sistem pertanian berkelanjutan.

Baca Juga: Viral! Hendi Dinginkan Kota Semarang Saat Suhu Panas Ekstrim Pakai Ini

"Mereka umumnya bertani dengan basis monokultur, akhirnya (mereka) menanam padi justru untuk membeli beras. Ini lucu sekali," ungkapnya.

Karena itu, ia bersama suami memilih mengembangkan pertanian dengan penerapan agroekologi. Pondok Pesantren Ath-Thariq menjadi cikal bakal keduanya merintis dan mengembangkan sekolah agama berbasis ekologi di lahan seluas 10.000 m2, pada 2008.

Para santri di sana tidak hanya mendalami agama, melainkan juga wajib mengetahui cara memenuhi kebutuhan pangan dengan menggarap benih tanaman setempat yang ditanam secara organik.

Bagi Nissa, agroekologi menjadi sistem sosial yang tangguh, mampu menghadirkan air, menghasilkan benih lokal adaptif, bahkan menyelamatkan ketersediaan pangan dari krisis iklim global maupun pandemi.

"Kami mengembangkan pertanian tanpa pupuk, pestisida, maupun insektisida organik karena dilarang membunuh makhluk hidup. Lahan tidak dicangkul, tidak ditraktor tapi memaksimalkan peran cacing, bebek, ayam dan lembu. Hasil pertanian dengan konsep agroekologi juga zero waste," terangnya.

Baca Juga: Hujan Bawa Banyak Pesan, Makna dan Kenangan, Ini 34 Kata-Kata Bijaknya

Kearifan Lokal

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X