Santunan Rp 30 Juta Dinilai Tak Layak

Red
- Senin, 13 September 2021 | 01:00 WIB
SM/cnnindonesia - HANGUS TERBAKAR: Sel Lapas Tangerang Warsito setelah kebakaran. (70)
SM/cnnindonesia - HANGUS TERBAKAR: Sel Lapas Tangerang Warsito setelah kebakaran. (70)

Kebakaran Lapas Tangerang

JAKARTA - Santunan Rp 30 juta dari pemerintah untuk masing-masing korban meninggal dalam kebakaran di Lapas Tangerang, Banten, dinilai kurang layak. Pengacara publik dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta Oky Wiratama mengatakan, ganti kerugian untuk keluarga korban tewas seharusnya bisa mencapai Rp 600 juta.

Oky menjelaskan, berdasarkan Pasal 95 KUHP jo Pasal 9 ayat 3 Peraturan Pemerintah Nomor 92 Taahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas PP Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, ganti kerugian untuk korban meninggal sedikitnya Rp 50 juta dan paling banyak Rp 600 juta.

”Kajiannya adalah PP92/2015 besaran ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 KUHP yang mengakibatkan kematian, besarnya ganti rugi minimal Rp 50 juta dan paling banyak Rp 600 juta,” kata Oky dalam konferensi pers virtual, Minggu (12/9).

Aturan tersebut juga mengatur ganti kerugian untuk korban luka berat atau cacat sehingga tidak bisa melakukan pekerjaan, paling sedikit Rp 25 juta dan maksimal Rp 300 juta.

Pihaknya mempertanyakan alasan Menkumham Yasonna Laoly memberikan santunan Rp 30 juta kepada keluarga korban meninggal. Oky menyebutkan, pemerintah semestinya melakukan kajian kelayakan terlebih dahulu. Sebab, korban bisa jadi adalah kepala rumah tangga yang harus menghidupi anak dan istrinya.

Korban tewas juga sudah menjalankan hukuman atas tindak pidananya, sehingga bisa dianggap sebagai warga taat hukum. ”Apakah bantuan Rp 30 juta itu layak? Apa acuan hukumnya? Besaran ganti kerugian juga ada kalkulasinya.

Semestinya pemerintah melihat ‘oh dia kepala rumah tangga’, jadi beban ganti kerugian itu nggak bisa dipukul sama rata. Harus juga dihitung kerugian keluarga korban secara materiil dan imateriil,” jelas Oky dalam konferensi pers secara virtual, Minggu (12/9). Peneliti Imparsial Hussein Ahmad menilai bantuan Rp 30 juta tersebut menyakiti keluarga korban.

”Nyawa satu orang dihargai Rp 30 juta. Santunan Rp 30 juta itu sebenarnya menyakiti keluarga korban. Atas dasar apa Yasonna Laoly memberikan santunan itu? Apa tolok ukurnya?,” ujar Hussein. Dia juga menyebutkan, semestinya Yasonna bisa mengantisipasi kebakaran di Lapas Kelas I Tangerang dengan memperbaiki sarana dan prasarana.

Halaman:

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

7 Fakta Meninggalnya Ameer Azzikra, Adik Alvin Faiz

Senin, 29 November 2021 | 18:55 WIB
X