Terdakwa Perkara BKK Kebumen Ajukan Pembelaan, Kuasa Hukum Nilai Tak Masuk Ranah Pidana

- Jumat, 10 September 2021 | 13:27 WIB
AJUKAN PEMBELAAN : Tim penasihat hukum dari terdakwa Giyatmo, yang dipimpin Taufiq Nugroho MH menyampaikan pembelaan (pledoi) pada sidang lanjutan perkara dugaan korupsi BPR BKK Kebumen di Pengadilan Tipikor Semarang. (suaramerdeka.com/dok)
AJUKAN PEMBELAAN : Tim penasihat hukum dari terdakwa Giyatmo, yang dipimpin Taufiq Nugroho MH menyampaikan pembelaan (pledoi) pada sidang lanjutan perkara dugaan korupsi BPR BKK Kebumen di Pengadilan Tipikor Semarang. (suaramerdeka.com/dok)

 

SEMARANG, suaramerdeka.com - Terdakwa perkara dugaan korupsi Perusahaan Daerah (PD) BPR BKK Kebumen Tahun 2011, Giyatmo melalui tim penasihat hukumnya mengajukan pembelaan (pledoi).

Dalam pembelaannya, ketua tim penasihat hukum Taufiq Nugroho MH menilai, perkara yang diduga merugikan keuangan negara Rp 8,7 miliar itu semestinya tak masuk ranah pidana, melainkan murni perkara perdata.

"Ini murni perdata, maka penegak hukum harus tunduk dan patuh pada hukum perdata. Lebih khusus hukum tentang Perseroan Terbatas karena bentuk badan hukum BKK Kebumen adalah Perseroan Terbatas," kata Taufiq usai sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Jumat 10 September 2021.

Baca Juga: Perayaan Sebar Apem Yaqowiyyu Jatinom Ditiadakan, Diganti Doa Kebangsaan

Menurutnya, perbuatan malawan hukum dalam hukum perdata atau hukum korporasi tidak bisa serta merta menggerakan hukum pidana, karena masing-masing menggunakan dasar hukum yang berbeda.

Diketahui, perkara ini melibatkan tiga terdakwa. Selain Giyatmo (nasabah), juga Azam Fatoni (eks Dewan Pengawas BPR tersebut) dan Kasimin (eks Direktur Pemasaran). Ketiganya dituntut secara terpisah oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kebumen.

Berdasarkan dakwaan, kasus ini berawal saat Giyatmo mengajukan permohonan kredit dengan total Rp 13 miliar. Nilai pengajuan itu melebihi batas maksimum kredit.

Meski demikian, permohonan pinjaman itu mendapat persetujuan pimpinan di BKK, termasuk terdakwa Azam Fatoni dan Kasimin, dan dibuat seolah-olah menggunakan nama debitur lain.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X