Saipul Jamil Hanya Bisa Dimaafkan Korbannya, Pakar Psikologi Singgung Stasiun TV Langgar Hak Korban

- Selasa, 7 September 2021 | 18:08 WIB
Saipul Jamil. (foto:zonasurabayaraya.pikiran-rakyat.com)
Saipul Jamil. (foto:zonasurabayaraya.pikiran-rakyat.com)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Kontroversi glorifikasi pedangdut Saipul Jamil (JL) yang berujung penandantanganan petisi menolak dirinya kembali ke panggung hiburan terus bergulir.

Stasiun Televisi yang menayangkan kembalinya SJ pun meminta maaf, termasuk sederet artis yang pasang badan membelanya.

Lalu, apakah ini memang hukuman sosial yang seharusnya diterima seorang pelaku kekerasan perundungan seksual?

Dr Ade Iva Wicaksono melalui akun Twitter-nyaa di @ivarivai1992, memberi penjelasan. Pakar bidang psikologi sosial dari Universitas Indonesia itu mengungkapkan seorang pelaku kekerasan seksual hanya bisa dimaafkan oleh korbannya.

Baca Juga: Kasus Covid Indonesia 7 September: Bertambah 7.201, Kasus Corona Saat Ini Capai 4.140.634 Orang

"Pemaafan seorang pelaku sexual abuse HANYA BISA DILAKUKAN KORBAN, bukan masyarakat. Korban mengalami trauma. Hanya korbanlah yang boleh menentukan pemaafan terhadap pelaku. Studi Prieto-Ursua (2021) membahas hal ini," tegas Ade.

Menurut Ade Iva, pemaafan dan penerimaan pelaku ‘bukan oleh korban’ dapat berarti jaminan untuk menekan korban agar tetap diam. Hal tersebut juga merupakan gangguan terhadap kesejahteraan korban.

"Pemaafan dan penerimaan pelaku BUKAN OLEH KORBAN dapat berarti jaminan untuk menekan korban agar tetap diam, gangguan terhadap kesejahteraaan korban. Yang mengerikan adalah pelaku perundungan sexual lepas dari tanggung jawab," imbuhnya

Menurutnya, yang mengerikan adalah melepaskan pelaku perundungan seksual dari tanggung jawab.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Safar: Program JKN KIS, Jaminan Kesehatan yang Mumpuni

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:07 WIB
X