UT Hadirkan Para Pakar dalam Pengembangan Modul

- Jumat, 4 Oktober 2019 | 11:36 WIB
Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

TANGERANG, suaramerdeka.com - Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk wilayah rawan bencana. Bahkan beberapa negara lain memberikan predikat sebagai laboratorium bencana di dunia. Hal inilah yang mendorong Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Terbuka (UT) menyelenggarakan seminar nasional tahunan matematika, sains, dan teknologi

"Ini untuk menumbuhkan budaya siaga terhadap bencana," ujar Rektor UT, Ojat Darojat saat memberikan sambutan dalam seminar bertajuk Peran Matematika, Sains, dan Teknologi dalam Kebencanaan di Kampus UT, Tangerang.

Kehadiran pemerintah sangat penting dalam mitigasi maupun penanganan pascabencana secara integratif agar bisa mengurangi dampak yang terjadi. Ojat menjelaskan bahwa mitigasi bencana dan kesiapsiagaan bencana maupun pengurangan risiko bencana masih perlu ditingkatkan. "Aktivitas meminimalisir risiko bencana harus dimaknai sebagai investasi pembangunan berkelanjutan secara nasional," katanya.

Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran di UT, pengembangan konten atau modul yang diberikan sesuai dengan kebutuhan saat ini, Ojat menyampaikan bahwa pihaknya memang menghadirkan para pakar di bidangnya. "Di dalam pengembangan bahan ajar akan membutuhkan orang-orang yang mumpuni dibidangnya. Nanti akan kita sinergikan dengan ahli media dan ahli pembelajaran," tuturnya.

Dalam merumuskan konten atau modul tersebut, nanti akan dikumpulkan para pakar supaya kita bisa menghasilkan bahan ajar atau modul yang memang secara konten memenuhi syarat kualitas yang bagus.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikora Karnawati mengungkapkan bahwa dari sisi pendidikan dan riset, peran Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) sangat dibutuhkan manusia antara lain melalui mitigasi bencana.

"Karena yang diterapkan BMKG itu adalah penerapan STEM untuk sistem monitoring, praktek, perkiraan, prediksi dan peringatan dini. Seperti peringatan dini tsunami, kemudian prediksi dan peringatan dini cuaca ekstrem, prediksi dan peringatan dini iklim ekstrem," kata Dwikora.

Editor: Andika

Tags

Terkini

X