Kebocoran Data PeduliLindungi Ancam Keselamatan, Menkes: Sistem Penting Transisi Pandemi ke Endemi

- Sabtu, 4 September 2021 | 07:12 WIB
Menkes Budi Gunadi Sadikin. (foto: pikiran rakyat) (Nugroho Wahyu Utomo)
Menkes Budi Gunadi Sadikin. (foto: pikiran rakyat) (Nugroho Wahyu Utomo)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Kebocoran data pada platform tunggal PeduliLindungi berpotensi mengancam keselamatan banyak orang.

Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin mengemukakan PeduliLindungi jadi salah satu sistem penting untuk digunakan dalam transisi pandemi ke epidemi.

"Kemungkinan kita akan hidup dengan virus ini dalam waktu cukup lama," kata Budi Gunadi Sadikin saat menghadiri ungkap kasus tindak pidana ilegal akses data vaksinasi di Mapolda Metro Jaya yang dipantau melalui YouTube Polda Metro Jaya, Jumat, 3 September 2021.

Baca Juga: Jabar Siapkan Monumen Bagi Pahlawan Covid-19

Budi mengatakan, virus Corona diperkirakan terus berdampingan dengan masyarakat Indonesia dalam jangka waktu lama.

"Virus ini ada yang hidup setahun, lima tahun bahkan ratusan tahun seperti polio," katanya.

Untuk itu pemerintah mempersiapkan aplikasi PeduliLindungi agar masyarakat bisa hidup dengan virus tanpa khawatir jatuh sakit.

Baca Juga: Pemerintah Minta Cakupan Peserta BPJamsostek Tahun Ini 29,44 Persen dari Penduduk Bekerja, Ini Alasannya

Budi mengatakan aplikasi PeduliLindungi diuji coba dalam enam sektor aktivitas, di antaranya perdagangan, pendidikan, transportasi, keagamaan, pariwisata dan olahraga.

"Ini dibangun berbasis teknologi informasi menggunakan PeduliLindungi yang punya tiga fungsi besar, pertama skrining karena terkoneksi ke sistem database kita, kedua fungsi penelusuran, kalau terpapar bisa dilacak siapa saja yang ada di sekitarnya dan ketiga fungsi prokes seperti pengaturan jarak," katanya.

Budi mengapresiasi upaya Polda Metro Jaya dalam mengidentifikasi dan menyelesaikan kasus yang berkaitan dengan tindak pidana ilegal data vaksin.

"Saya sedih sekali melihat ini. Saya terima kasih ke Polda Metro Jaya bisa mengidentifikasi dan menyelesaikan ini dengan baik," ujarnya.

Budi mengatakan tindakan pelanggaran elektronik juga kerap dialami nasabah perbankan di Indonesia.

"Kalau perbankan, korbannya satu (nasabah), tapi karena ini (aplikasi PeduliLindungi) orangnya lolos, yang kena tidak hanya satu, tapi orang-orang di sekitarnya, bisa keluarga, bahkan orang se-Indonesia," katanya.

Budi mengatakan SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 memiliki kemampuan bereplikasi sangat cepat.

"Kelipatannya (replikasi) besar sekali. Virus ini bereplikasi bisa delapan orang dalam sehari," katanya.

Halaman:
1
2

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X