Soal Afghanistan, Indonesia Harus Berhati-hati Ambil Langkah, Jangan Berlebihan

- Jumat, 3 September 2021 | 06:15 WIB
Pasukan Taliban di Afghanistan. (pikiran rakyat)
Pasukan Taliban di Afghanistan. (pikiran rakyat)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Mantan Kepala Bais TNI, Laksda TNI (Purn) Soleman B.Ponto, mengingatkan Indonesia harus berhati-hati sebelum mengambil langkah menyangkut Afghanistan.

Jangan sampai persahabatan Indonesia dengan negara tetangga rusak karena dianggap berlebihan dalam mengambil sikap.

Indonesia harus melihat dulu apa keuntungan dan kepentingan bersama yang bisa diperoleh.

Sebab banyak negara yang memiliki kepentingan terkait Afghanistan, dari India, Pakistan, Tajikistan, Turki, Iran, Arab Saudi, hingga China, AS dan Eropa.

Baca Juga: Kerugian Negara dalam Perkara Dugaan Korupsi Pencairqn Kredit BPR BKK Kebumen 2011 Jadi Tanggung Jawab Direksi

"Kalau mau hubungan, harus lihat apa kepentingan kita di sana, apa keuntungan di sana. Jangan sampai kita masuk, malah merusak hubungan kita dengan yang ada di sana," kata Soleman B Ponto.

Dampak lain, yakni munculnya kelompok di Indonesia yang berusaha mengambil manfaat dengan 'iseng-iseng berhadiah' mengkampanyekan AS kekalahan AS di Afghanistan di tanah air.

"Jadi kita sebaiknya menunggu dan melihat kondisi dulu. Sehingga jangan sampai ada yang salah pengertian, para sahabat kita justru marah hanya karena kita terlalu cepat ambil sikap soal Afghanistan," tandasnya.

Namun, menurut Wawan H Purwanto, Deputi-VII Bidang Komunikasi dan Informasi yang juga juru bicara BIN, mengatakan, Indonesia berkepentingan Afghanistan yang damai, sehingga terjalin hubungan dan stabilitas.

Baca Juga: Celah Data di VPNMentor Telah Diatasi BSSN: dengan Verifikasi

Taliban saat ini, menurut Wawan, membutuhkan pengakuan internasional untuk mewujudkan janji-janjinya seperti tercantum dalam perjanjian Doha, Qatar dengan AS beberapa waktu lalu.

Dengan mendapatkan kepercayaan dunia internasional, maka Taliban bisa memulai penataan Afghanistan. Tanpa hal itu, Taliban tinggal menunggu waktu akan jatuh, dan Afghanistan terlibat perang saudara.

"Beri kesempatan Taliban untuk bisa menujukkan upaya-upayanya , meskipun dia tidak sepenuhnya bisa menguasai milisi-milisi yang ada. Dalam masa transisi, tidak mudah mengatasi kerusakan dalam waktu sekejap. Tapi day per day, minggu per minggu, kita tetap coba bantu dengan upaya diplomasi. Mudah-mudahan dengan kerjasama internasional, stabilitas akan tercipta di Afghanistan," kata Wawan H Purwanto.

Sementara itu Pengamat Terorisme Haris Abu Ulya dari The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Haris Abu Ulya, menganalisa bahwa ideologi Taliban tak se-ekstrem Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Ia juga menyebut visi Taliban sebagai Sunni tak berorientasi membangun kekhilafahan seperti ISIS, melainkan hanya membangun pemerintahan Imarah yang berbasis di Afghanistan saja.

"Sampai detik ini Taliban tidak pernah men-declair akan mendirikan negara khilafah, mereka hanya menyebut pemerintahan yang Imarah, semacam beberapa menteri utama. Taliban hari tampil ini berbeda, cara berpikirnya berbeda," kata kata Haris Abu Ulya.

"Ini tentu saja membuka celah untuk mulai membangun kepercayaan, tapi itu semua masih menunggu, wait and see. Apakah ini jadi negara dan bisa bergaul, serta tidak menjadi home base bagi kelompok-kelompok yang bisa membuat persoalan di negara lain," imbuhnya.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pintu Nasdem Terbuka Lebar untuk Ridwan Kamil

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:36 WIB
X