Tren Pembiayaan Proyek SBSN Semakin Meningkat

- Rabu, 17 Juli 2019 | 16:15 WIB
Foto suaramerdeka.com/Setiady Dwi
Foto suaramerdeka.com/Setiady Dwi

BANDUNG, suaramerdeka.com -Tren pembiayaan proyek infrastruktur melalui skema Surat Berharga Syariah Negara (Sukuk Negara) terus menunjukan peningkatan. Langkah itu diharapkan dapat menjadi pilihan di tengah keterbatasan anggaran terutama APBN.

"Tahun ini menjadi Rp 28,43 triliun. Itu terdiri dari 619 proyek di 34 provinsi yang tersebar di 7 kementerian dan lembaga," kata Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, Luky Alfirman saat groundbreaking pembangunan  gedung ruang kuliah dan laboratorium terintegrasi MIPA UIN Sunan Gunund Djati Bandung, Rabu (17/7).

Enam tahun sebelumnya, katanya, SBSN yang pertama kali diterbitkan pemerintah dengan memanfaatkan dana pasar keuangan sejak 2008 mulai membiayai proyek jalur ganda dengan nilai hanya Rp 800 miliar saja. 

Secara bertahap, investor yang terlibat semakin meningkat sehingga SBSN membiayai banyak proyek dengan peningkatan besaran nilai yang signifikan. Pada 2014, angkanya sebesar Rp 1,57 triliun, namun langsung meloncat lima tahun berikutnya hingga mencapai Rp 22,53 triliun.

Dalam catatan Kemenkeu, selain Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang sudah menyerap Rp 4,08 triliun yang berasal dari 55 kampus, SBSN diakses pula proyek dari Kemenpupera, Kemenristek Dikti, KLH dan Kehutanan, LIPI, dan Badan Standarisasi Nasional.

Dijelaskan, pemanfaatan SBSN juga bisa ditujukan untuk proyek-proyek pemerintah berbasis APBN terlebih dengan banyaknya sejumlah proyek infrastruktur yang digenjot guna pertumbuhan.

"Tapi kita perlu inovasi dan kreativitas dalam soal financing. Tak bisa pakai paradigma lama. Infrastruktur memang selalu pemerintah, dan selalu APBN atau Rupiah murni, tapi itu kan terbatas, ini metode skema baru, perlu alternatif  pembiayaan dengan mengoptimalkan semua potensi," jelasnya.

Dalam kaitan itu, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Pendanaan Pembangunan Bappenas, Teni Widuriyanti menegaskan bahwa penggunaan pembiayaan SBSN atas sejumlah proyek, melalui penilaian yang ketat dan komprehensif. Dia mencontohkan pengajuan dari PTKIN yang sebenarnya berlimpah.

"Banyak atensi dari PT, termasuk PT Islam, puluhan proposal yang masuk, tapi kan ini perlu assesment di antaranya master plan dan kemampuan eksekusi. Jadi kalau sekarang UIN SGD dapat 4 kali alokasi bukan karena diprioritaskan, tapi basisnya adalah assesment kompetensi," jelasnya.

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

X