Rhoma Irama (2), Pengaruh Rock dalam Musik Dangdut Soneta

- Minggu, 8 November 2020 | 12:00 WIB
(istimewa)
(istimewa)

PADA bagian 1 telah dibahas musikalitas Rhoma Irama yang saat itu masih bernama Oma Irama. Perjuangan Oma Irama di dunia musik yang berangkat dari memainkan lagu-lagu manca bersama Gayhand di tahun 1960-an. Kemudian mulai bergabung dengan berbagai orkes melayu, seperti Orkes Melayu Purnama di tahun 1968. Juga Orkes Melayu Chandra Leka. Selain itu Oma juga menjajal kemampuan rekaman lagu-lagu pop bersama Ineke Kusumawati. Sampai akhirnya kembali ke jalur musik melayu bersama Orkes Melayu Soneta yang didirikannya.

Baca juga: Rhoma Irama (1), Perjalanan Pencarian Format Musik Dangdut

Oma Irama juga menyajikan lirik-lirik jenaka saat dibawakan bersama penyanyi pendamping, Elvy Sukaesih. Seperti pada lagu "Tepuk Nyamuk" (album Dangdut, 1970), "Satu Diantara Dua" (album Soneta Vol.2 - Penasaran, 1975), atau "Asal Sombong" (album Soneta Vol. 3 - Rupiah, 1976).

Kemudian, sepulang Oma Irama dari ibadah haji, gaya musikalitas berubah. Dia menyisipkan unsur rock yang lebih kental, terutama hard
rock ala Deep Purple, Led Zeppelin, atau Uriah Heep ke dalam adonan musik dangdutnya. Wajar jika kemudian Elvy Sukaesih tidak sepakat dan memilih mundur dari sisi Oma Irama.

Sebelum merilis album Darah Muda (1976), Oma Irama telah berganti menjadi Rhoma Irama. Huruf Rh adalah kependekan dari Raden Haji,
lantaran Oma Irama juga masih berdarah biru. Semenjak itu, Rhoma Irama berdampingan dengan pendangdut asal Mranggen - Jateng, Rita Sugiarto.

Lantas mengapa Rhoma memasukkan unsur hard rock ke dalam pola musik dangdutnya? Berawal dari perseteruan dengan seorang musisi rock yang menyebut musik dangdut sebagai musik kampungan. Adrenalin kemarahan Rhoma tersulut dengan membuktikan bahwa musik dangdut bisa diposisikan ke tempat lebih layak. Artinya, musik dangdut bisa lebih berkelas. Walaupun kesederhaan itu tetap ada.

-
Rhoma Irama di tahun 1979. (istimewa)

Namun di tangan kreativitas seorang Rhoma bersama pasukan Soneta Grup yang saat itu sudah bersemboyan: Sound of Muslim, mampu menjadikan musik dangdut semakin unik dan lepas dari mainstream. Jika dangdut hanya mengandalkan hentakan tabla, suara tamborine, suling, dan petikan mandolin, maka bagi Soneta nya Rhoma Irama justru menambahkan sound kibor berupa organ, synthesizer moog, piano elektrik, duo gitar elektrik, bas elektrick Rickenbecker, satu set drum dengan double bas drum plus perangkat perkusi, timpani, hingga beberapa pemain alat tiup atau section horn.

Di Soneta grup ini ada nama H Riswan atau yang biasa akrab disapa Iwan, sebagai pemain kibor. Riswan kerap menyajikan gaya seorang pemain kibor handal dengan atraksi setengah menjungkirkan kibor. Mengingatkan pada gaya permaian kibor Jon Lord (Deep Purple) atau Keith Emerson (ELP). Selain itu ada aksi maut tiupan suling dari A Hadi. Gaya permainan Hadi mampu pula menghadirkan pola soul seperti pada bagian jeda lagu "Santai", atau mampu berunision dengan sound kibor.

Rhoma Irama pun memang terpengaruh gaya permainan maestro gitar Ritchie Blackmore (Deep Purple) ketimbang gaya permainan Jimi Page
(Led Zeppelin). Sound - sound drive yang dimainkan Blackmore pada lagu-lagu Deep Purple seperti "When A Blind Cries" (album Deep Purple - Machine Head, 1972), "Sholdier of Fortune" (album Deep Purple - Stormbringer, 1974), atau "Child in Time" (album Deep Purple - In rock, 1970), kerap mempengaruhi gaya permainan Rhoma pada lagu "Kerinduan", "Ghibah", "Melodi Cinta", atau "Menunggu".

Halaman:

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

Boy Group PENTAGON Geser BTS-21 dan BlackPink?

Senin, 24 Januari 2022 | 19:09 WIB
X