The Beatles (2), Singel Love Me Do Membuka Jalan Sukses

- Minggu, 10 Mei 2020 | 12:00 WIB
The Beatles ki-ka: John Lennon, Paul Mc Cartney, George Harrison, dan Ringo Star. (istimewa)
The Beatles ki-ka: John Lennon, Paul Mc Cartney, George Harrison, dan Ringo Star. (istimewa)

Menjelang akhir 1964, The Beatles merilis album Beatles For Sale. Album ini dikerjakan ketika The Beatles tengah syuting film ke-2, Eight Arms to Hold You yang kemudian berubah menjadi Help. Lagi-lagi Beatles For Sale menjadi album yang tak ubahnya dua album The Beatles, yaitu menyisipkan lagu-lagu karya penyanyi/musisi lain. Sehingga penyisipan karya musisi/penyanyi lain jika hasilnya apa adanya, maka bisa menjadi jurang popularitas bagi The Beatles. Beruntung The Beatles mengaransemen lagu-lagu penyanyi/musisi lain dengan gaya yang catchy. Sehingga tidak dijauhi para beatlemania.

-
The Beatles saat konser. Suara penonton mampu mengalahkan sound musik mereka. (istimewa)

Sitar India

Kemudian saat menggarap film Help, The Beatles mulai berkenalan dengan alat musik India, sitar. George Harrison adalah satu dari personel The Beatles yang tertarik belajar sitar, termasuk adat ketimuran khas India. Kelak, saat The Beatles beristirahat dari rekaman dan show, George Harrison dan tunangannya, Patty Boyd, terbang ke India untuk belajar sitar pada Ravi Shankar, tak ketinggalan tentang kedamaian yang dilakukan pemeluk agama Hindu di India.

Lantas mengapa pada film Help, The Beatles bisa berkenalan dengan sitar India? Karena film bergenre komedi itu mengisahkan tentang Ringo Star yang dikejar pemilik sekte di India, gara-gara Ringo mengenakan cincin keramat. Bagi penganut sekte, mereka yang mengenakan cincin keramat harus dikorbankan pada dewa. Maka tidak heran sepanjang film menggambarkan adegan kocak para personel The Beatles dikejar-kejar penganut sekte dari India. Di sinilah budaya India melalui alat musik sitar diperkenalkan pada The Beatles.

Tahun 1965 menjadi tahun emas bagi The Beatles. Mereka merilis dua album pada tahun itu, meski jarak rilisnya berbeda. Album Help yang memuat lagu "Yesterday", "Ticket to Ride", dan juga "Help" dirilis pada bulan April 1965. Lagu "Yesterday" yang kemudian menjadi evergreen song bagi The Beatles, tercipta ketika Paul Mc Cartney tak dapat tidur di malam hari. Kemudian dia memainkan piano dan terciptalah lagu yang semula diberi judul "Scramble Eggs". Paul merasa ragu dengan lagu yang baru saja dimainkan dan diciptakannya. Sebab dia menduga lagu itu sebagai lagu yang mirip atau jiplakan dengan lagu penyanyi/musisi lain.

Setelah diperdengarkan ke sejumlah orang dekat, ternyata tak ada satu pun yang pernah mendengar lagu itu sebelumnya. Paul akhirnya merivisi lirik dan judulnya menjadi "Yesterday". Saat rekaman pun, Paul melakukannya tanpa kehadiran tiga orang beatle lainnya. Paul hanya mengajak empat pemain cello, dan dia menyanyi sembari memainkan gitar akustik.

Sementara lagu "Ticket to Ride" mulai menunjukkan adanya pengaruh musik India, terutama drive-drive gitar dari George saat akan masuk dari bagian reffrain kembali ke bagian verse. Ketukan musik pada lagu ini belakangan juga digunakan The Beatles pada lagu "Tomorrow Never Knows" di album Revolver (1966).

Pada tahun ini pula, The Beatles menggelar konsernya di Hollywood Bowl yang kemudian didokumentasikan dalam album Live at Hollywood Bowl. Menjelang akhir 1965, The Beatles merilis album Rubber Soul. Jika di album Help didominasi lagu-lagu rock n roll dan pop country, maka pada album Rubber Soul, The Beatles agak menurunkan tensi gaya musiknya menjadi agak pop. Bahkan mereka juga memainkan soul misalnya pada lagu "Drive My Car", "Word". Akan tetapi yang menarik pada album ini adalah hadirnya permainan sitar George Harrison yang masih canggung pada lagu "Norwegian Wood". Lagu ini corak musiknya pop country dengan birama 3/4. Tetapi dibumbui permainan sitar yang terkesan dipaksakan.

Pada album Rubber Soul ini, jangan lewatkan lagu "Michelle" yang menyusipkan potongan lirik berbahasa Perancis di bagian verse lagu. Juga lagu "Girl" yang dinyanyikan John Lennon. Serta "In My Life", sebagai sebuah renungan kehidupan ala John Lennon.

Memasuki tahun 1966, menjadi tahun terakhir bagi The Beatles sebagai band panggung. Lantaran mereka sendiri sudah tak mampu mendengarkan musik yang mereka mainkan di atas panggung, sebagai akibat jeritan histeris penonton. Setelah merilis album Revolver yang banyak memasukkan unsur psychedelick dalam musiknya, The Beatles lebih berhenti menggelar shownya. Namun sebelumnya, mereka sempat tampil di Budogan, Tokyo yang kemudian didokumentasikan dalam album The Beatles Live at Budogan. Penampilan di negara matahari terbit ini menjadi pengalaman yang aneh dan membingungkan bagi The Beatles. Pasalnya, para penonton di negara itu dikenal santun. Tak ada jeritan histeria penonton sepanjang mereka tampil. Justru yang ada, tepuk tangan penonton setelah lagu rampung. (Bersambung)

Halaman:

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

Etty Ismini Rilis Single "Semenit Saja"

Selasa, 31 Januari 2023 | 22:55 WIB
X