• KANAL BERITA

7 Versi Kematian Syekh Siti Jenar (Bagian 1)

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

Syekh Siti Jenar bisa dibilang sebagai sosok tokoh mistik Kejawen yang paling kontroversial. Selain karena ajaran manunggaling kawula gusti-nya, perihal asal-usul dan nasabnya masih diperdebatkan hingga sekarang.

Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 Caka/1426 H di lingkungan Pakuwuan, Caruban, pusat kota Caruban yang sekarang dikenal dengan Astana Japura, sebelah tenggara Kota Cirebon. Di luar kelahirannya, Syekh Siti Jenar juga memiliki banyak kontroversi pada riwayat kematiannya.

Versi pertama, Syekh Siti Jenar meninggal karena dihukum mati oleh Sultan Demak, yaitu Raden Patah, atas persetujuan Dewan Wali Songo yang dipimpin oleh Sunan Bonang. Sebagai algojo hukuman pancung adalah Sunan Kalijaga, dan eksekusi hukuman dilaksanakan di alun-alun Kesultanan Demak. Sebagian versi ini mengacu pada Serat Syeikh Siti Jenar yang ditulis Ki Sosrowidjojo.

Versi kedua, Syekh Siti Jenar dijatuhi hukuman mati oleh Sunan Gunung Jati. Sebagai algojo atau pelaksana hukuman adalah Sunan Gunung Jati. Eksekusi dilakukan di Masjid Ciptarasa, Cirebon. Jenazahnya dimandikan oleh Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Sunan Giri, lalu dimakamkan di Graksan, yang kemudian disebut sebagai Pasarean Kemlaten. Riwayat ini tercantum dalam Wawacan Sunan Gunung Jati Pupuh ke-39 karya Emon Suryaatmana dan T.D. Sudjana.

Versi ketiga, Syekh Siti Jenar meninggal karena dijatuhi hukuman mati oleh Sunan Giri, dan sebagai algojo hukuman mati adalah Sunan Gunung Jati. Sebagian riwayat ini menyebutkan bahwa vonis yang diberikan Sunan Giri atas usulan Sunan Kalijaga.

Versi keempat, Syekh Siti Jenar meninggal karena vonis hukuman mati yang dijatuhkan Sunan Giri. Peristiwa kematian Syekh Siti Jenar versi ini dikisahkan dalam Babad Demak. Menurut Babad Demak, Syekh Siti Jenar meninggal bukan karena kemauannya sendiri (karena dengan kesaktiannya, ia dapat menemui ajalnya), tetapi ia dibunuh oleh Sunan Giri. Keris ditusukkan ke badannya hingga tembus ke punggung dan mengucurkan darah berwarna kuning. Setelah mengetahui bahwa suaminya dibunuh, istri Syekh Siti Jenar menuntut bela kematian itu kepada Sunan Giri.    Sunan Giri menghiburnya dengan mengatakan bahwa dia bukan yang membunuh Syekh Siti Jenar tetapi dia mati atas kemauannya sendiri. Diberitahukan juga bahwa suaminya kini berada di dalam surga. Sunan Giri meminta dia melihat ke atas dan di sana dia melihat suaminya berada di surga dikelilingi bidadari yang agung, duduk di singgasana yang berkilauan. Kematian Syekh Siti Jenar dalam versi ini juga ditulis dalam Babad Tanah Jawa yang disadur S Santoso, dengan versi sedikit berbeda.

Selanjutnya: 7 Versi Kematian Syekh Siti Jenar (Bagian 2)


(Red, Berbagai sumber/CN41/SM Network)