• KANAL BERITA

Menilik Petilasan Sunan Prawata

Foto: Tabek Prawoto
Foto: Tabek Prawoto

SELEPAS wafatnya Sultan Trenggana, Prawata, putera sang sultan, mengangkat diri sebagai Sultan Demak. Namun kepemimpinan beliau tak diakui sejumlah pihak lantaran tak mewarisi kewibawaan pada diri ayahnya. Akibatnya, Banten dan Cirebon serta kota-kota pesisir di Jawa Timur melepaskan diri.

Di Jawa Tengah, kekuasaan Prawata tidak diakui oleh seluruh adipati di daerah. Satu adipati yang paling agresif menolak kepemimpinan Prawata adalah adipati Jipang Panolan, Arya Penangsang. Dia berpendapat jika dirinyalah yang berhak mewarisi Kesultanan Demak.

Tak tanggung-tanggung, Arya Penangsang menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi Prawata. Sunan Prawata konon dikebumikan di sebuah bukit di Desa Prawata, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati.

Di bukit tersebut banyak dijumpai reruntuhan bangunan dan bekas-bekas pondasi bangunan. Di tengah reruntuhan, terdapat sebuah petilasan yang dikeramatkan penduduk karena diyakini sebagai makam Sunan Prawata.

Makam Sunan Prawata diketemukan penduduk pada tahun 1979. Atas inisiatif para ulama, dibangunlah makam baru yang terbuat dari porselin, terletak di tengah-tengah cungkup yang tertutup kain putih. Di samping cungkup, dibangun pula masjid kecil yang difungsikan sebagai tempat ibadah warga setempat.

Petilasan ini banyak dikunjungi peziarah pada malam Jumat Pahing.

Kirab 17 Rajab

Makam Sunan Prawata sudah menjadi tempat wisata religi di Pati bagian selatan, berlokasi di bagian selatan dari makam Prabu Angling Dharma yang berada di Desa Mlawat. Konon, Desa Prawata adalah bekas istana Raden Bagus Hadi Mukmin pada zaman Kerajaan Demak.

Prosesi adat kirab budaya lurup dan ikan lengkur Sunan Prawata jatuh pada tanggal 17 Rajab. Kirab budaya dimeriahkan dengan arak-arakan dan karnaval membawa gunungan, tumpeng, hingga drum band.

Setiap kirab budaya biasanya dihadiri dari pengageng dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Tak ketinggalan wisatawan mancanegara yang hadir dalam prosesi tersebut.

Warga yakin, nasi nuk (nasi yang dikepal, dinuk-nuk membentuk bulatan) yang dikirab dari Balai Desa menuju Makam Sunan Prawoto membawa berkah, mengandung tuah untuk keselamatan, kesejahteraan, dan rezeki.

Bahkan, bila nasi hasil kirab itu disebarkan ke sawah bisa memberikan kesuburan pada pertanian. Petani di sana sangat percaya dengan keyakinan itu.


(Fadhil Nugroho Adi/CN41/SM Network)