• KANAL BERITA

Nyepi, Memarisudha Bumi dan Isinya

Foto: istimewa
Foto: istimewa

RABU,  6 Maret 2019 menjadi moment penting berskala nasional pada Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1941 berupa Tawur Kesanga atau Tawur Agung di pelataran Candi Prambanan. Hal ini sesuai dengan keputusan Panitia Pelaksana Perayaan Hari Raya Nyepi 2019. Ketua panitia, Wayan Samudra Gina Antara menyebutkan, banyak kegiatan secara nasional dilakukan di berbagai daerah, misalnya bakti sosial di Pandeglang (Banten), Lombok (NTB), Palu (Sulteng) sejak 23 Februari lalu. Kemudian acara puncak berupa Dharma Shanti sebagai penutup rangkaian kegiatan diadakan 6 April di Art Center Denpsasar yang menurut rencana dihadiri Presiden Joko Widodo.

Di Jakarta juga digelar sarasehan yang dihadiri umat Hindu Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) di Gedung Nuasantara V Kompleks DPR RI. Sarasehan ini banyak mengulas kesiapan dan upaya Indonesia  dalam menyongsong era Industri 4.0.

Melalui sarasehan ini diharapkan bisa memacu semangat dan keinginan membangun kesejahteraan umat manusia sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana, yakni mendorong peningkatan kualitas spiritual manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam atau lingkungan. Intinya adalah mengatur keharmonisan hubungan manusia dengan Hyang Widi atau sering disebut pariangan, kaharmonisan hubungan manusia dengan manusia atau pawongan, dan keharmonisan hubungan manusia dengan alam atau palemahan.

Nyepi menjadi momentum kontemplatif untuk perenungan diri, dimana di penghujung tahun umat diimbau melihat ke belakang, melakukan evaluasi atas hal-hal yang telah terjadi sepanjang tahun yang segera berlalu. Bangsa yang kuat dan sejahtera hanya dapat terbentuk bila masyarakatnya mencapai kondisi yang oleh ajaran Hindu disebut Jagadhita, yaitu terpenuhinya unsur-unsur Dharma (kebenaran), Artha (kesejahteraan) dan Kama (kesenangan).

Tawur Agung ini merupakan kegiatan bhuta yadnya (kurban suci) yang dilaksanakan sehari sebelum Nyepi yang pada hakekatnya secara niskala untuk mengembalikan unsur-unsur alam yang selama satu tahun telah digunakan menunjang kehidupan sehingga tercipta keseimbangan, harmoni, selaras antara bhuana alit (mikro kosmos) dengan bhuana agung (makro kosmos).

Hal ini sesunguhnya merupakan tanggung jawab manusia sebagai kosekwensi logis karena dianugrahi ‘’kelebihan’’ yakni perangkat untuk memilah dan memilih sesuatu yang baik dan buruk.  Hanya saja, seperti kita tahu manusia tidak selalu mampu memilih yang terbaik, lantaran manusia juga dibekali watak dasar yang disebut triguna, yaitu satyam (kebenaran), rajas (egoisme) dan tamas (malas).

Karena itu, tujuan hakiki dari upacara Tawur Kesanga ini adalah memarisudha bumi, yaitu menjadikan alam ini bersih, selaras dan seimbang sehingga menjauhkan manusia dari marabahaya, musibah, wabah penyakit dan senanti asa dekat dengan Sang Hyang Widhi Wasa.

Catur Bratha

Banyak rangkaian acara atau prosesi Hari Raya Nyepi ini. Dimulai dari melasti atau mekiis, tawur agung, sipeng (nyepi) dan ngembak geni. Melasti dilaksanakan dua hari menjelang tilem kesange  (bulan mati di sasih/bulan kesembilan kalender Saka) dan diadakan di pantai bagi daerah yang dekat laut, atau di pinggir danau bagi daerah yang dekat danau, atau di sumber mata air yang disucikan bagi daerah yang jauh dari danau atau pun laut. Tujuannya adalah angamet sairining bhuana, angelebur malaning bhumi (mengambil sari-sarinya bumi dan melebur atau membersihkan kotoran dunia).

Kemudian Tawur, merupakan upacara yang dilaksanakan di perempatan jalan di pusat pemerintahan (provinsi, kabupaten, kecamatan, desa). Upacara ini menetralisir bhuana agung (jagad raya) dan bhuana alit (tubuh manusia). Setahun penuh manusia banyak mengambil isi dunia berupa air, bahan makanan, bahan pakaian dan lain sebagainya, sehingga terjadi ketidakseimbangan. Lebih-lebih yang dilakukan atas keserakahan, sehingga terjadi kepincangan antara bhuana agung dan bhuana alit.

Jadi tawur ini adalah upacara kurban yang dilaksanakan secara tulus, ikhlas. Ini juga sebagai latihan bagi umat untuk melepaskan ikatan dari daya tarik benda duniawi. Secara spritual tawur ini digambarkan sebagai pengusiran segala bhutakala yang ada di diri manusia, berupa sifat-sifat iri, dengki, serakah, marah, benci.

Setelah melakukan tawur, keesokan harinya memasuki Nyepi (Sipeng). Jika Tawur sebagai perlambang ikhlas berkurban, maka saat Nyepi ini manusia harus mengendalikan diri. Di sinilah kita kenal dengan Catur Brata (empat pantangan). Pertama, Amati Geni yang secara lahiriah diwujudkan dengan tidak menyalakan api dan secara rohani diartikan harus mampu memadamkan nafsu berupa amarah, benci, loba, serakah, tamak yang berkobar di tubuh atau pikiran.

Kedua, Amati Karya yang  secara lahiriah diwujudkan dengan tidak bekerja. Dalam arti rohani, kita sementara menghentikan kegiatan fisik agar fokus dalam olah rohani (spiritual). Inilah saat terbaik untuk merenungkan kebesaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa terhadap apa yang telah diberikan kepada manusia. Manusia wajib melakukan introspeksi diri, mulat saira tentang subha-ashuba karma (baik – buruk perbuatan), tentang dosa-dosa yang telah kita lakukan dalam kurun waktu satu tahun. Setelah ini, kita berharap untuk bisa berbuat yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Ketiga, Amati Lelungan, secara lahiriah mengandung maksud orang tidak diperbolehkan bepergian. Secara rohaniah, saatnya mengendalikan dan menghentikan kegiatan fisik untuk berkonsentrasi pada kegiatan rohani.

Keempat, Amati Lelanguan, secara lahiriah tak dibenarkan melihat pertunjukkan atau nonton hiburan-hiburan. Dari sisi rohani merupakan kegiatan pengendalian pikiran terhadap tarikan-tarikan keinginan (kama). Maka dalam Catur Brata umat akan masuk dalam ruang dan waktu yang sepi, senyap dan sangat indah melalui tapa, brata, yoga dan semadi.

Umat bisa memasuki dunia yang dalam filsafat Jawa disebut sebagai heneng yakni menciptakan kondisi yang diam/ netral, kemudian hening sebagai kondisi yang tenang dalam lahir batin. Dari renungan suci itu kita berharap bisa mendapat pelajaran berharga untuk tidak melakukan kesalahan pada tahun lalu, dan lebih waspada dan berbuat kebajikan pada tahun mendatang.

Setelah melakukan brata penyepian yang dilakukan selama 24 jam, mulai pagi hingga pagi esok hari, lalu dilaksanakan Ngembak. Di sini dilaksanakan sima krama atau dharma shanti, yaitu saling mengunjungi dan memaafkan dengan seluruh keluarga, handai taulan, teman sekerja dan lain sebagainya. Selepas hari ngembak ini umat mulai mengisi lembaran baru perjalanan kehidupan dengan hati yang penuh damai, tulus, ikhlas, tenteram.


(I Nengah Segara Seni/CN26/SM Network)