• KANAL BERITA

Nyadran, Ungkapan Syukur Warga Desa Kandri

MAKAN TUMPENG: Ratusan Warga Kandri makan tumpeng bersama dalam tradisi Nyadran Kali Sendang Gede di Desa Wisata Kandri, Gunungpati Semarang, Kamis, (14/2). (Foto: suaramerdeka.com/Pamungkas Suci Ashadi)
MAKAN TUMPENG: Ratusan Warga Kandri makan tumpeng bersama dalam tradisi Nyadran Kali Sendang Gede di Desa Wisata Kandri, Gunungpati Semarang, Kamis, (14/2). (Foto: suaramerdeka.com/Pamungkas Suci Ashadi)

Pringgitan - TRADISI Nyadran Kali merupakan ungkapan syukur warga Desa Kandri atas ketersediaan air melimpah. Sumber mata air itu, menjadi sumber kehidupan dan mereka memberi nama Sendang Gede. Karena itu, setiap tahun sekali mereka melakukan prosesi tradisi Nyadran Kali pada Kamis Kliwon di Desa Wisata Kandri, Gunungpati Semarang, Kamis, (14/2).

Ratusan Warga Kandri melakukan arak-arakan atau pawai berjalan satu kilometer. Mereka mengarak kepala kerbau, jaddah, alat tradisional dan gunungan buah-buahan. Mereka mengarak itu semua mulai dari Sendang Lanang sampai ke Sendang Gede. Setelah sampai di depan Gapura Sendang Gede, dilakukan serangkaian acara Tarian Materto Suci hasil kreasi Warga Kandri. Para penari berjumlah sembilan, masing-masing membawa kendi yang di dalamnya terdapat bunga. Sambil menari mereka menaburkan bunga ke atas.

Beberapa menit kemudian, sembilan penari memasuki gapura menuju ke Sendang Gede, dibelakang diikuti dengan juru kunci sendang. Disusul dari belakang ada arakan kepala kerbau yang diletakan di sebelah kali.

Juru Kunci Sendang Gede, Ki Ahmad Supriyadi mengatakan, makna dari tradisi Nyadran Kali sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas limpahan karunia, berkah, keselamatan dan kesejahteraan yang diterima oleh warga selama setahun. Dia menceritakan sebelum ada Sendang Gede, di sekitar kali tersebut terus mengalir mata air yang besar. Kejadian itu, membuat warga takut kalau Desa Kandri akan menjadi rawa. Kemudian sesepuh Desa Kandri memberikan tumbal berupa kepala kerbau, jadah dan alat tradisional untuk menutup mata air.

"Setelah mata air itu mengecil maka di sekitar kali dibuat Sendang Gede sebagai sumber kehidupan Desa Kandri." ujar Supriyadi.

Dalam proses Nyadran warga juga melakukan tumpengan dengan menggelar daun pisang di sekitar kali dan sepanjang jalan Gapura Sendang Gede. Mereka berdoa bersama dan makan bersama sebagai simbol kerukunan dan gotong royong. Adapula gunungan buah-buahan sebagai wujud rasa syukur para petani.

"Kegiatan ini sudah berjalan 6 tahun lalu. Sebelumnya hanya berupa slametan dan acara tidak sebesar ini. Semoga Desa Wisata Kandri dapat dikenal masyarakat luas," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari mengatakan, kedepan pemkot akan support penuh terhadap kegiatan Nyadran di Desa Wisata Kandri. Dukungan itu diberikan berupa promosi agar Desa Kandri banyak dikunjungi wisatawan.

Menurut Indri, Desa Wisata Kandri memiliki daya tarik tersendiri karena masih bersifat alam. Maka potensi tersebut perlu dikembangkan tidak hanya untuk acara Nyadran Kali namun destinasi yang lain juga dapat dikembangkan.

"Kami sudah membawa rombongan dari Disbudpar dan akan dikaji bersama supaya dapat berkolaborasi memajukan Desa Wisata Kandri. Paling tidak dapat masuk dalam kalender kegiatan yang ada di Kota Semarang," terangnya. 


(Pamungkas Ashadi/CN41/SM Network)