• KANAL BERITA

Maulid di Askhabul Kahfi, Sejarah Berdirinya Madinah

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

MENYAMBUT  datangnya Maulid Nabi 1440H, Pondok Pesantren Askhabul Kahfi menggelar Selapanan Malam Ahad legi dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kampus 1 Pondok Pesantren Askhabul Kahfi,  Polaman Mijen Semarang, Sabtu (1/12). Acara yang dihadiri masyarakat sekitar, ribuan wali santri, wali santri bahkan tetangga wali santri tersebut, begitu hidmat dan menyentuh kalbu yang menambah mahabbah kepada Nabi SAW.

Melalui momen tersebut, pengasuh Ponpes Askhabul Kahfi menuturkan sejarah tentang berdirinya Madinah (Negara Madinah). Beliau menuturkan, menginjak usia ke-53 tahun, Nabi Muhammad SAW didampingi Abu Bakar hijrah dari Mekkah ke Madinah atas perintah Allah SWT.

Sebelum sampai di Yatsrib (Madinah), Nabi singgah di Quba selama tiga hari. Dan di situ, Nabi mendirikan masjid yang pertama kali, dan diberi nama Masjid Quba. Jarak Quba dengan Yatsrib yaitu dua mil (3,7 KM). Sesampainya di Yatsrib pada 20 Rabiul Awwal (12 Juni 622), Nabi disambut dengan suka cita oleh kaum muslimin (sahabat Anshor) dengan lantunan syair pujian, “Tholaal badru Alaina, mintsaniyatil wadaa, wajabsy syukru alainaa, maa da aa lillahidaa”, “telah tiba cahaya purnama dihadapan kita yang muncul dari balik bukit, karenanya kita wajib bersyukur, sebab masih ada orang yang mau mengajak ke jalan Allah”. Sesaat setelah Nabi berhenti kemudian Nabi masuk ke rumah Kholid bin Yazid (Abu Ayub Al-Anshori).

Madinah sebelum Hijrah

Sebelum Nabi hijrah ke Madinah, tempat itu bernama Yatsrib. Kota itu, ditempati beberapa suku, agama, dan ras/keturuanan. Suku yang ada antara lain Suku Bani Nadhir, Bani Qaynuqa, Bani Qurayza, Aws, dan Bani Khazraj. Sedangakn agama yang ada yaitu Yahudi, Nasrani, Islam, dan Pagan (percaya terhadap benda dan kekuatan alam seperti matahari, bulan, dan bintang).

Penduduk Yatsrib yang bersifat majmuk itu, tidak pernah ada suatu pemerintahan dan seorang pemimpin atas semua penduduk. Yang ada ialah tokoh-tokoh suku yang hanya memikirkan kepentingan sukunya masing-masing. Mereka saling bersaing dengan cara yang tidak sehat, menanamkan kebencian, serta menyebarkan fitnah untuk menanamkan pengaruh dan simpati di masyarakat. Akibatnya suku-suku, saling bermusuhan dan bahkan peperangan.

Dalam kondisi memprihatinkan itu, Nabi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bermusyawarah dalam rangka membentuk peraturan dan undang-undang pemerintahan, agar masyarakat bisa hidup berdampingan, aman dan tentram meskipun berbeda suku, bangsa dan agama.

Ajakan Nabi itu diterima oleh seluruh unsur masyarakat. Masyarakat menerima ajakan, bukan karena Muhammad seorang rasul. Mereka tidak percaya atas kerasulan Muhammad, dan juga bukan karena agama yang dibawanya (Islam), karena mereka sudah mempunyai agama yang mereka yakini kebenarannya. Masyarakat menerima Nabi Muhammad karena memiliki akhlak baik, santun dalam bicara, lembut hati dan tingkahnya, kasih sayang kepada sesama dan selalu berseri-seri raut mukanya.

Dalam musyawarah itu, terwujudlah suatu peraturan dan undang-undang pada tahun 2 H / 623 M, yang dikenal dengan nama Dustur Madinah/Piagam Madinah, yang terdiri dari 47 pasal.  Sebagian di antara, pertama, kaum muslimin dan kaum yang lain (Yahudi, Nasrani, dan lainya) hidup damai, bebas memeluk dan menjalankan ajaran agamanya masing-masing (Pasal 22 dan Pasal 33).

Kedua, apabila salah satu pihak diperangi musuh, maka mereka wajib membantu pihak yang diserang, dan tidak boleh seorang pun diperlakukan secara buruk (Pasal 16).  Ketiga, semua warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama terhadap negara dan juga bertanggung jawab dalam menjalankan tugas (Pasal 24, 36, 37, dan 41).

Setalah membahas konstitusi, maka forum, para perumus perlu memilih seorang pemimpin yang jujur, adil, amanah, berakhlak mulia serta bertanggung jawab untuk melaksanakan dan mengawal konstitusi yang telah dibentuk dan disepakati bersama. Maka di forum itu pulalah Nabi Muhammad SAW terpilih secara aklamasi untuk menjadi pemimpin seluruh masyarakat Yatsrib.

Setelah Nabi resmi diangkat menjadi pemimpin masyarakat, maka nama Yatsrib diubah menjadi Madinah (Negara Madinah) yang berdasarkan Piagam Madinah. Tidak dinamakan negara din (agama), negara arab, negara Islam, atau lainnya, tapi Negara Madinah yang artinya maju di bidang intelektual dan maju di bidang kehidupan. Negara Madinah berarti, negara yang masyarakatnya maju, intelektual, berbudaya, sejahtera, bermartabat dan berwibawa.

Musyrikin Quraisy Berulah

Keberhasilan Nabi dalam rangka menata negara baru itu (Madinah) membuat posisi dan kedudukannya semakin tinggi dan dihormati oleh seluruh lapisan masyarakat, dan Islam semakin berkembang dengan pesat. Syariat Islam dilaksanakan sebaik-sebaiknya oleh umat Islam dan tanpa bersinggungan dengan agama-agama lain.

Mendengar keberhasilan Nabi di Madinah, kaum musyrikin Quraisy yang sejak awal di Mekkah sudah memusuhi Nabi, mereka semakin meningkatkan permusuhan dan penganiyayaanya terhadap kaum muslimin. Kaum Muslimin yang masih berada di Mekkah, diusir dari kampung halamannya. Dan di Madinah mereka menghasut, menanamkan kebencian serta menebar fitnah, dan selanjutnya mereka memberontak dan memerangi nabi dan para sahabatnya (kaum muslimin).

Maka dalam kondisi seperti ini Allah SWT mengizinkan Nabi dan kaum muslimin untuk berperang. Firman Allah dalam QS Al Hajj ayat 39, ”Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah di aniaya. Dan, sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu”.

Redaksi dalam ayat itu kata yuqaatiluun (fiil mudhorik mabni majhul) yang memiliki arti orang-orang yang diperangi. Jadi dalam ayat itu jelas, bahwa Nabi dan kaum muslimin diperangi terlebih dahulu, bukan yang mengawali perang.

Diterangkan dalam Tafsir Thobari Juz 10 halaman 206 dan Tafsir Al Munir Juz 9 halaman 248 bahwa ayat itu merupakan ayat Madaniyyah dan merupakan ayat yang pertama kali turun yang berkenaan dengan perang dan turun pada tahun 2 H.

Nabi dan para sahabatnya diperangi terlebih dulu, diperkuat dengan beberapa peperangan yang terjadi selama Nabi di Madinah (sebanyak 28 kali) baik peperangan yang diikuti oleh Nabi, yang dinamakan ghazwah maupun peperangan yang tidak diikuti oleh Nabi (saroya/sariyah). Hampir semua peperangan ini berkecamuk di Madinah dan sekitarnya, seperti Perang Uhud, Perang Khondak, Perang Ahzab, dan lainnya.

Tujuan Berperang

Nabi dan kaum muslimin diizinkan berperang karena beberapa hal. Yaitu untuk menolak kedzoliman dan menghalau gangguan, menolak kesewenang-wenangan dan malapetaka yang ditimbulkan oleh orang musyrik. Lalu membela dan memepertahankan hal-hal suci dan sakral, melindungi orang lemah dan tertindas, menjadikan kaum muslimin bisa menjalankan ibadah kepada Allah dengan baik.

Selanjutnya pengasuh yang juga alumnus Futuhiyyah Mranggen Demak itu, mengajak seluruh umat untuk meneladani sifat-sifat yang dimiliki Nabi. Seperti santun dalam berbicara, lembut hati dan tingkah lakunya, berseri-seri raut mukanya serta kasih sayang kepada sesama.

Ia juga menghimbau, kaum muslimin untuk bisa mengambil itibar atau pelajaran cara Nabi berjuang, yaitu dengan cara mulia dan lemah lembut, jauh dari kekerasan serta kasar. Hal itu selaras dengn firman Allah dalam Q.S Ali Imron ayat 159 yang artinya “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”.

Pengasuh Askhabul Kahfi itu, mengajak kepada khususnya muslim untuk menghindari cara berdakwah dan mensyiarkan Islam dengan cara yang tidak dicontohkan Nabi seperti radikalisme dan terorisme. Radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Terorisme ialah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan.

“Marilah kita berjuang dan berdakwah dengan penuh kasih sayang dan penuh toleran sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi dan para sahabatnya. Seperti yang dilakukan Umar bin Khattab. Ketika waktu shalat telah tiba, Umar menolak melaksanakan shalat di dalam gereja, untuk menjaga keberadaan gereja tersebut, dan supaya tidak dikatakan, disinilah Umar melakukan shalat. Oleh karena itu, kita akan membangun masjid di bekas tempat shalatnya. Selanjutnya, Umar bin Khattab keluar untuk melaksanakan shalat di sampingnya. Tempat shalat Umar itu pun akhirnya dibangun Masjid dan diberi nama Masjid Umar, yang menara adzannya sangat tinggi sejajar dengan tugu gereja,” terang dia.

Toleransi kaum muslimin dalam rangka berdakwah dan menyebarkan Islam telah diakui banyak pihak, antara lain Le Combre Henry de’ Castries memberi gambaran kaum muslimin melalui perkataanya, “Mereka tidak membunuh umat yang menolak masuk Islam. Mereka tidak memaksa seorangpun untuk masuk Islam dengan kilatan pedang, tidak pula dengan lidah. Akan tetapi, Islam masuk ke dalam hati dengan penuh kerinduan dan pilihan. Hal seperti ini lebih disebabkan oleh pengaruh Al Qur`an dan penggunaan logika yang tepat”.

Lalu, Laura Vichea Vagleri, seorang orientalis asal Italia menuturkan tentang keindahan penyebaran Islam, kekuatan aneh apa yang terpendam dalam agama (Islam ) ini ? Kekuatan internal persuasive apa yang melebur di dalamnya ? Bagaimana bisa hati manusia mampu menerima agama (Islam)”.

Pusat Penelitian Penyebaran Keyakinan di Berne, Switzerland, dalam laporan tahunannya juga menyebutkan,” sejak bertahun-tahun, Islamlah yang paling mampu menarik hati pengikutnya daripada semua keyakinan lainnya di dunia. Meskipun para penyerunya hanya memilki fasilitas sederhana dan gerakan individu yang tidak terencana.


(Red/CN26/SM Network)