• KANAL BERITA

Januari 1990, Sampangan Semarang Diterjang Banjir Bandang

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

Riwayatmu Dulu - "Semarang kaline banjir". Demikianlah salah satu penggalan syair lagu langgam milik Ratu Kembang Kacang, Waldjinah. Bukan sekadar lagu, banjir memang masih menjadi langganan warga Semarang tiap musim hujan tiba.

Salah satu peristiwa besar yang membekas di ingatan adalah jebolnya talut Sungai Banjirkanal Barat pada awal 1990. Tragedi ini memporakporandakan permukiman, pe­kantoran, gedung sekolah, dan menewaskan warga Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur maupun karyawan pabrik garmen di Kelurahan Bongsari, Kecamatan Semarang Barat.

Sejak Kamis 25 Januari 1990 sore, langit mulai gelap. Mendung pekat juga terlihat dari Kelurahan Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur. Dan pada pukul 21.00 hujan turun sangat deras.

Warga Simongan, Karsino menuturkan pada saat itu hujan deras di kawasan Simongan hanya berlangsung sekitar satu jam. Namun siapa sangka air bah tiba-tiba menerjang dari arah Gunungpati dan Ungaran. Karena itu tak pernah ada yang menduga, ketika tiba-tiba banjir bandang menerjang.

Talut sungai Banjirkanal Barat tak mampu membendung arus. Jebolnya talut meluluhlantakkan Kelurahan Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur dan Kelurahan Bongsari, Kecamatan Semarang Barat. Puluhan karyawan pabrik garmen Damatex di Kelurahan Bongsari, Semarang Barat pun tewas. Selain itu banyak rumah dan sekolah di Sampangan terendam. Tak terkecuali SD 02 Sampangan. Lemari, buku, bangku hanyut terbawa air hingga Jalan Lamongan Raya.

"Tanggul yang jebol berada tidak jauh dari SD. Enam ruang kelas dan guru hancur. Banyak warga yang menemukan kursi dan meja SD. Ada yang berupaya mengembalikan, ada pula yang tidak. Saya sampai tidak bisa berpikir, ketika mendapat kabar ada siswa dan wali murid saya yang meninggal akibat banjir bandang," ujar Enny Budiastuti, salah satu guru SD 02 Sampangan, yang menjadi saksi mata peristiwa itu.

Banjir juga menyebabkan gerobak-gerobak PKL di depan Pasar Sampangan (sekarang Taman Sampangan), terseret hingga ke seberang jalan.

Ketinggian air paling dalam berada di daerah Sampangan (2-3 meter). Selain itu juga di Kelurahan Pegandan (2-2,5 meter), Kelurahan Petompon dan Bendungan (0,5-1 meter), dan Kelurahan Bendan Ngisor (0,60 meter).

Dikutip dari Suara Merdeka yang terbit 10 Februari 1993 dan 3 Februari 1993, menyebutkan, banjir pada 1990 itu pernah terjadi pula pada 1980. Walau demikian jumlah korban tewas pada banjir 1990 mencapai hampir 100 orang dan menyebar. Adapun kerugian yang dialami akibat bencana itu mencapai sekitar Rp 8,5 milliar.


(Fadhil Nugroho Adi, Red, Muhammad Syukron/CN41/SM Network)