• KANAL BERITA

Meningkatkan Kualitas Diri dari Serat Centhini

Foto: BuddhaZine
Foto: BuddhaZine

Kejawen - Spiritualisme Jawa lekat dengan berbagai macam lelaku yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas diri. Melalui sarana "laku brata" atau "tapa brata", ada laku yang diperuntukkan bagi orang-orang yang berambisi mendapatkan kerta wirya winasis hingga mendapat posisi sosial tinggi di masyarakat. Ada juga laku brata yang diperuntukkan bagi orang awam.

Dalam Serat Centhini, gambaran laku brata untuk orang awam digambarkan dengan kisah diskusi atau bawarasa antara Uler Jedhung, Ular Sawah dan Burung urang-urangan.

Uler Jedhung bertapa sebagai sarana untuk dapat menjadi kupu-kupu. Ketika berwujud ulat, dia makan dedaunan, lalu bertapa sebagai kepompong dan berubah jadi kupu-kupu. Ketika menjadi kupu-kupu, makanannya berubah menjadi sari bunga.

Bila diumpamakan dengan laku brata manusia, maka model Uler Jedhung ini adalah seseorang yang berusaha keras dengan seluruh kekuatan jiwa raganya agar memperoleh kejayaan atau meningkatkan status sosial dalam kehidupan masyarakat.

Setelah kaya, dia akan mencari pasangan hidup sampai menelurkan bibit-bibit uler yang bisa lebih rakus dibanding induknya. Laku model ini menggambarkan seseorang yang hanya mengejar peningkatan status sosial dalam hidup, maka bila berketurunan nanti hanya akan menurunkan manusia seperti dia bahkan bisa lebih serakah.

Lalu bertapanya Ular Sawah merupakan sarana agar dapat diterima lagi menjadi warga leluhurnya. Dalam mitologi, ular sawah adalah keturunan bangsa naga yang menguasai dunia. Namun laku brata ular sawah hanya bersifat mempertahankan kekuasaan agar ditakuti sesamanya.

Dia tidak akan bisa berubah memiliki Jamang (tanduk mahkota) meski sudah beberapa kali ganti kulit. Maka jika model ular sawah ini jadi penguasa, ia tetap saja punya sifat serakah dan selalu merasa kurang.

Laku brata kedua hewan ini lalu dikritik oleh burung Urang-urangan. Sebab kedua laku tersebut bukanlah laku tapa yang benar, karena tujuannya masih mengejar duniawi. Dalam menjalankan laku brata, burung Urang-urangan mewujudkannya dengan mensyukuri dan memelihara keindahan wujudnya.

Ia kerap memperhatikan telaga, yang diibaratkan dengan manusia yang "meleng telenging ati" atau memperhatikan gerak gerik rasa pangrasa dalam hatinya sendiri. Dalam lubuk hati itulah akan ditemukan petunjuk yang tepat untuk dirinya dan keluarganya.


(Fadhil Nugroho Adi/CN41/SM Network)