• KANAL BERITA

Ngraga Suksma, Mendayagunakan Batin untuk Menyatu dengan Tuhan

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

Kejawen - Ngraga suksma adalah jalan untuk mencapai kasunyatan. Ngraga suksma disebut pula dengan mati sajroning ngaurip, atau jalan lurus menghadap Tuhan.

R.Ng. Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha pupuh Sinom menuliskan ngraga suksma sebagai berikut.
Sageda sabar santosa
Mati sajroning ngaurip
Kalis ing reh aru-ara
Murka angkara sumingkir
Tar len meleng malatsih
Sanityaseng tyas mematuh
Babaring sapundhendha
Antuk mayar sawetawis
Borong angga suwarga mesi martaya

Maknanya, manusia harus bersikap sabar dalam menjalankan ngraga suksma. Jika sikap ini dilakukan maka ia tak akan menjumpai kesulitan dan terlepas dari godaan hawa nafsu angkara murka. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan cara melatih diri berhubungan dengan Tuhan, yaitu berserah diri agar hidup langgeng.

Saat manusia berhasil ngraga suksma, dia akan meracut jasad (raga). Raga manusia akan lepas dengan suksma. Karena itulah langkah semacam ini sering dinamakan dengan ngelmu pangracutan. Yakni upaya pelepasan raga dengan suksma.

Menurut Sunan Kalijaga, syarat utama seorang manusia untuk ngraga suksma adalah badan jasmani harus suci. Ia harus menahan hawa nafsu, termasuk di dalamnya nafsu syahwat dan mbisu (tak bicara). Hal ini dapat dijalankan dengan cara bersemadi dalam keheningan.

Dengan ngraga suksma, manusia akan terlatih untuk dapat menyatu dengan Tuhan. Manusia yang sedang ngraga suksma berarti mampu mendekatkan yang jauh, apa yang diinginkan terwujud, dan mengadakan apa yang dikehendaki. Ia merasa bahwa dirinya berbadan halus. Karenanya, segala perilakunya yang makarti adalah batin. Maka jika ia sudah mencapai puncaknya, ia dapat mengalami kalenggahan (dipancari cahaya Tuhan).


(Fadhil Nugroho Adi/CN41/SM Network)