• KANAL BERITA

Ritual-ritual yang Membuat Malam 1 Suro Makin Wingit

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

Gugon Tuhon - Malam 1 Suro selalu membuat bulu kuduk berdiri. Keyakinan-keyakinan Jawa seputar malam ini memang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Konon, malam 1 Suro dikenal mistis karena banyak makhluk tak kasat mata yang berkeliaran, melebihi malam-malam lainnya.

Banyak yang memanfaatkan momentum malam 1 Suro dengan berbagai ritual. Ada yang melakukan jamasan pusaka, ada pula yang kungkum atau berendam di tempat tertentu. Di Semarang, biasanya orang-orang banyak berendam di sekitar Tugu Soeharto. Konon, dengan bertapa sambil berendam di sana, apa yang menjadi hajatnya akan terkabul.

Selain dua ritual itu, masyarakat Jawa yang masih memegang teguh tradisi nenek moyang ada yang mengadakan ritual dengan bersemadi. Seperti ritual kungkum, mereka juga bersemadi di wilayah yang jauh dari keramaian, seperti gunung dan sungai. 

Gunung Lawu, salah satunya. Masyarakat yang melakukan ritual ini percaya, dengan naik ke puncak Pringgodani dan melakukan topo broto (menyepi) di puncak, maka keinginannya bisa terkabul. Hajatnya pun bermacam-macam, seperti agar usahanya lancar hingga naik pangkat. Jika berhasil, mereka akan mengadakan selamatan.

Selama bulan Suro, masyarakat juga akan melakukan ritual jamasan atau membersihkan benda-benda pusaka peninggalan leluhur seperti keris dan tombak yang dipercaya memiliki kekuatan gaib, serta mengadakan sedekah bumi. 

Masyarakat di sekitar kerajaan juga melakukan ritual Mubeng Benteng untuk meramaikan malam pergantian tahun Jawa. Ritual itu sampai sekarang masih bisa ditemui di Kraton Surakarta dan Kraton Ngayogyakarta. Di Keraton Kasunanan, masyarakat Surakarta menyambut kedatangan kerbau Kyai Slamet. Sementara di Pura Mangkunegaran, biasa diperingati dengan kirab "tapa bisu".

Sementara di pedesaan, masyarakat menyambut 1 Suro dengan memasak bubur Suro. Bubur ini bukan sekadar makanan, tapi menjadi ubarampe untuk memaknai 1 Suro serta sebagai lambang rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Di kampung-kampung, malam 1 Suro selalu diwarnai dengan tirakatan. Ini mempunyai arti, seseorang harus terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan di mana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan.

Filosofi-filosofi inilah yang membuat malam 1 Suro dikenal wingit. Bahkan larangan menikah di bulan Suro juga masih dipercaya sampai hari ini. 
 


(Fadhil Nugroho Adi/CN41/SM Network)