Saat Pandemi, Milenial yang Cerdas Terapkan Gaya Hidup Frugal

- Selasa, 9 Maret 2021 | 16:34 WIB
Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

SAAT pandemi, banyak hal yang berubah signifikan, termasuk gaya hidup dan pengelolaan keuangan. Kita dipaksa untuk berhemat, memiliki dana darurat sebagai jaring pengaman karena saat pandemi, hidup kita sangat dekat dengan berbagai risiko, misalnya kehilangan penghasilan, sakit mendadak karena virus covid-19 hingga kematian. Salah satu cara berhemat adalah dengan menabung dan menyiapkan dana darurat.

Belakangan ini mereka yang sadar akan pentingnya perencanaan keuangan juga mulai menerapkan frugal living. Ini adalah gaya hidup hemat, minimalis, dan cermat dalam mengambil keputusan agar tidak ada pengeluaran yang berlebih atau sia-sia.

Menjalani gaya hidup frugal berarti kita memprioritaskan pengeluaran yang penting VS tidak penting. Pilihan gaya hidup ini mungkin terlihat tidak menyenangkan dan bertolak belakang dengan gaya hidup milenial yang cenderung konsumtif. Bahkan, mereka yang menerapkan gaya hidup frugal kerap dicap ‘pelit’. Apakah pelit dan gaya hidup frugal sama? Jawabannya tidak.

Hal ini dikatakan oleh Branding and Communication Strategist MiPOWER by Sequis Ivan Christian Winatha, MM, RFP. Katanya, gaya hidup frugal berarti mengutamakan nilai suatu barang, yaitu bukan dari harganya melainkan kualitasnya. Contohnya, jika membeli sepatu baru karena sepatu yang ada sudah rusak maka akan memilih sepatu dari bahan yang tahan lama untuk jangka panjang meskipun harga sedikit lebih mahal, bukan sepatu murah yang hanya bertahan beberapa bulan. Jadi, gaya hidup ini bukan pelit, justru menghindari segala sesuatu yang bersifat boros.  

“Dengan disiplin menerapkan gaya hidup frugal sejak dini kita akan terbiasa melakukan prioritas saat akan berbelanja termasuk pada hal-hal yang kita anggap penting pun tetap melakukan pertimbangan.  Dampak panjangnya, lebih mudah meraih kebebasan finansial karena tidak terlilit utang dan bisa menikmati hidup seandainya kelak memilih untuk pensiun dini” sebut Ivan.

Bagaimana cara memulai gaya hidup ini? Hal pertama yang disarankan Ivan adalah mengevaluasi kembali cash flow. Anggaran yang hanya memberi kesenangan sesaat dan tidak terlalu mendesak sebaiknya dicoret. Dengan menghilangkan atau mengurutkan pengeluaran dari yang paling perlu ke pengeluaran yang bisa ditunda maka pengeluaran yang tidak diperlukan dapat dikurangi sehingga dapat meningkatkan jumlah uang yang bisa ditabung.

Selanjutnya, catat pengeluaran harian agar mudah untuk melakukan evaluasi pada bulan berikutnya bilamana pendapatan atau gaji berikutnya diterima. Hal kedua, yaitu memanfaatkan promo dan diskon dan terapkan hanya untuk barang yang memang benar-benar dibutuhkan. Dengan memanfaatkan promo berarti bisa menghemat pengeluaran dan ada sisa uang yang bisa disimpan. 

Kemudian, hilangkan keinginan untuk mendapat pengakuan status sosial dari lingkungan atau lebih tren dengan istilah ‘pansos’ karena `pansos` bukanlah kebutuhan tapi keinginan atau gengsi yang dapat menyebabkan keinginan mendadak yang besar untuk membeli barang-barang yang dianggap penting walau sebenarnya tidak penting, seperti mengganti gadget berbasis Android menjadi iOS demi ikut aplikasi kekinian clubhouse. Padahal, informasi bisa didapatkan dari sumber lainnya, seperti discord group, portal berita, webinar, YouTube, dan podcast.

“Ketika kita menganggap ekspektasi orang lain atas diri kita terlalu penting sampai membeli barang yang sangat mahal tentunya akan berbahaya bagi kesehatan finansial, kesehatan fisik, dan jiwa. Milenial perlu bijaksana untuk mengetahui perbedaan kebutuhan dan keinginan dan memilah mana yang harus dipenuhi segera dan yang masih bisa ditunda atau dihilangkan. Penuhi saja apa yang kita butuhkan, bukan apa yang orang lain nilai bahwa kita membutuhkannya,“ sebut Ivan.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

Salah Menyimpan, Kandungan Susu Sapi Bisa Rusak

Rabu, 28 Juli 2021 | 07:45 WIB
X